Melawan Satu Vagina

0
370 views
Cerita Sex Melawan Satu Vagina
KlipDewasa.com
Poker Online Terpercaya

Kumpulan Cerita & Foto Sex, Dewasa, Bugil, Bokep, Tips Bercinta Terlengkap : Cerita Sex Melawan Satu Vagina – Saat ini aku tinggal di kota Jakarta karena liburan aku putuskan untuk maen ke teman saya yang berada di Surabaya refreshinglah sekali kali dari kesibukannku, perkenalkan namaku Doni setelah beberapa jam aku menikmati perjalanan tak taunya aku sudah sampai di kota Surabaya langsung aku sambangi teman saya kami sangat dekat hingga akrab dengan keluargaku.layaknya kami seperti keluarga sejak lahir.

Namanya Mas Ivan dia berumur 23 tahun dia mempunyai adik cewek yang masih SMU dan sepupunya yang umurnya 22 tahun, hari itu tidak ada rencana apapun dan terjadi seiring berjalannya waktu, sesampainya di rumah Mas Ivan aku istirahat, keesokan harinya Mas Ivan mengajakku jalan jalan ke Mall dan ternyata dia mengajak ceweknya.

Cerita Sex Melawan Satu Vagina

cerita sex, cerita seks, cerita sex terbaru, cerita seks terbaru, cerita sex abg, cerita seks abg, cerita sex dewasa, cerita seks dewasa, cerita sex ngentot, cerita seks ngentot, kumpulan cerita sex, kumpulan cerita seks

Ceweknya Mas Ivan ini sungguh cantik ternyata dia masih Mahasiswi dan kost dekat degan ruma ma Ivan, kulitnya putih seperti bengkoang, rambutnya yang panjang tapi disisi lain yang membuat fokus dalam mataku adalah pinggulnya yang besar dan semok bodynya langsing dengan payudaranya yang mennjol keluar tingginya 168 cm umurnya masih muda 22 tahun.

Dengan mobilnya Mas Ivan Dea duduk didepan sedangkan aku dibelakang hanya dicuekin mereka yang asyk mengobrol, kami berputar putar di Mall dan makan di sebuah Sea Food, setelahnya kita kembali ke Kos Dea.

Lalu setelah mobil diparkir, kami bertiga masuk ke tempat kosnya dan langsung masuk kamarnya. Hmm.., sempat terpikir olehku, sebenarnya itu tempat kos cewek atau cowok, soalnya ada beberapa ciban (banci) yang nongkrong di situ.

Di dalam kamar Dea, aku disetelin sebuah VCD porno, sambil diberi coklat Silver Queen, sementara Mas Ivan dan Dea bermesraan berdua, berciuman dan bercumbu. Ah.., aku juga sempat berkenalan dengan adik Dea yang bernama Lenny, yang mondar-mandir keluar masuk kamar.

Lenny bertubuh lebih pendek dari Dea, lebih coklat kulitnya, dan bodinya lebih langsing, cuma sayangnya payudara dan pantatnya juga lebih “tidak menantang” dibandingkan Dea. Cuma yang lebih disayangkan lagi Lenny seorang perokok berat dan hari itu dia sedang sakit tenggorokan. Setelah selesai menyetel VCD-nya sampai 45 menit non-stop, Aku matikan TV dan playernya. Eh, tiba-tiba Mas Ivan nyeletuk, “Don.., kasih waktu 5 menit, dong..?”

Aku sudah mulai merasakan gelagat kurang baik dari pasangan itu. Tapi ya terpaksa, aku melenggang keluar kamar, tapi baru sampai di pintu, aku lihat di ruang tamu banyak ciban yang lagi ngobrol dengan Lenny sambil merokok. kemudian akupun kembali ke kamar Dea.

Lalu aku berkata, “Ah tidak usah dech, aku di sini saja, lagi tidak mood ngobrol sama orang-orang itu. Lakuin saja deh, aku tidak ngeliat”.

Terus terang saja Mas Ivan kaget, “Heh! Kon ‘jik cilik ngono kok..” (kamu itu masih kecil gitu kok). Kesel juga aku dibilang masih kecil. Lalu aku berusaha meyakinkan mereka, “Jangan kuatir lah.., aku sudah biasa kok ngeliatin ginian..”

Akhirnya setelah beberapa perdebatan ringan dan berkat kelihaianku berdiplomasi mereka mengijinkan juga aku untuk di dalam kamar saja, tapi dengan syarat aku tidak boleh macam-macam apalagi melaporkan ke orang tuanya. Setelah pintu kukunci, aku cuma bersandar saja di pintu dengan perasaan gembira.

Mas Ivan lalu tidur telentang di ranjang, lalu Dea mulai jongkok di atasnya dan menciumi wajah Mas Ivan, sedangkan Mas Ivan cuma diam saja, matanya merem, tangannya mengusap-usap punggung Dea. Sesekali Dea melihat ke arahku, mungkin memeriksa apakah aku mulai terangsang, dan memang benar aku terangsang.

Dan juga melihat gerakan Dea yang kelihatannya sudah “professional” dan ciuman-ciumannya yang ganas seperti di film BF, sepertinya Dea ini bukan pertama kalinya making love. Dea mulai menciumi Mas Ivan langsung ke mulutnya, dan beberapa kali mereka bersilat lidah dan terlihat jelas karena jarakku dan jarak mereka berdua cuma sekitar 3 meter.

“Hmmhh.., hmmhh..”, mereka berciuman sambil mendesah-desah, membuatku yang sejak tadi sudah tegang memikirkan hal yang tidak-tidak jadi semakin tegang saja. Setelah puas melumat bibir dan lidah Mas Ivan, Dea mulai bergerak ke bawah, menciumi dagunya, lalu lehernya.

Mas Ivan ketika itu mengenakan T-Shirt yang di bagian kerahnya cuma ada dua kancing, so karena Mas Ivan terlalu besar badannya (gemuk) maka Dea cuma menyingkapkannya dari bawah lalu menciumi dadanya yang montok dan putih. Mas Ivan ini memang WNI Keturunan Cina.

“Hmmhh.., aduh Yen nikmat Yen..”, begitu rintihan Mas Ivan. Dea menciuminya kadang cepat, lalu lambat, cepat lagi, memang sepertinya begitu style anak yang satu ini. Sedangkan aku semakin tidak tahan saja, kepingin juga dadaku diciumin oleh cewek, uhh.., tapi aku masih menahan diri dan terus menempel pada pintu.

“Ihh.., hmmh.., hh.., ihh..”, Mas Ivan terus mendesah sementara Dea mulai menciumi perutnya, lalu pusarnya, sesekali Mas Ivan berteriak kecil kegelian. Karena aku sangat terangsang, aku mulai meraba-raba diriku sendiri. “Sialan!” pikirku, “Ngapain juga gitu ahh..

“cerita sex”Akhirnya Dea mulai membuka risleting Mas Ivan, pertamanya pelan sekali, namun tiba-tiba “wrett” ditarik dengan cepat sekali sehingga Mas Ivan kaget, matanya terbuka sebentar, lalu tersenyum dan merem kembali, sedangkan kedua tangannya mengelus-elus rambut Dea. Dea langsung memegang-megang kemaluan Mas Ivan dan digosok-gosok dengan tangannya dari luar.

“Ahh.., hh.., Hmmhmh.., Ohh Yenn..”, Mas Ivan cuma bisa mendesah. Lalu setelah puas menggosoknya dari luar, dia mulai menyingkap celana dalam Mas Ivan dan tersembullah kemaluan Mas Ivan yang sudah tegang keluar dari sarangnya.

“Nylupp!”, Kemaluan Mas Ivan langsung dikulum oleh Dea. Stylenya masih seperti tadi, kadang pelan, lalu cepat, kadang pelan, lalu cepat, bikin kaget saja ini anak main seksnya. Sementara Mas Ivan sibuk meremas-remas rambut Dea saking enaknya, aku yang tidak kuasa menahan nafsu sibuk meremas-remas kemaluanku sendiri sambil tetap bersadar di pintu.

Ahh.., aku benar-benar merasa serba salah waktu itu, dan mereka tidak mengacuhkanku sama sekali. Dasar.., Yang membuataku nyaris tertawa karena kemaluan Mas Ivan yang sepertinya keseretan gara-gara Dea tidak melepaskan celana dalam Mas Ivan terlalu ke bawah, jadi seperti tercekik dech.

“Ehmm.., Ehmm..” Mungkin sekitar 5 menit Dea mengulum kemaluan Mas Ivan, ternyata selama itu juga dia belum keluar sama sekali, Dea bilang, “Zan.., sekarang giliran kamu yach?” Mas Ivan cuma tersenyum, lalu dia bangkit sambil melepaskan celana panjang dan celana dalamnya, sedangkan Dea sekarang yang ganti tiduran, lalu memejamkan mata. Sedangkan aku benar-benar kebingungan dan tidak tahu mau berbuat apa, aku benar-benar pingin buka baju dan join dengan mereka tapi ahh.., kacau sekali pikiranku ketika itu.

Mas Ivan mulai melakukan persis apa yang dia lakukan ke Dea sebelumnya. Nyaris persis sama, aku sampai heran apa memang sudah janjian ya mereka. Mas Ivan mulai mencium bibir Dea, cuma Mas Ivan menciumnya dengan stabil, pelan terus, berbeda dengan Dea yang style seksnya aku akui lumayan unik. “Hmmh.., mymmynm..”,

Sayang Mas Ivan sepertinya tidak profesional, cara menciumnya walau pelan, terlalu tergesa menuju ke bawah. Dea mencoba melepaskan t-shirt Mas Ivan, lalu Mas Ivan langsung melepasnya dan meletakkan di sebelahnya. Mas Ivanpun mulai menciumi leher Dea.

Sementara tangannya meraba-raba payudara Dea yang aduhai, “Hmhmhhm.., Hmhmhmh..” Mereka berdua terus mendesah keenakan. Aduh, pemandangan yang cukup menggelikan sekaligus menggairahkan itu benar-benar membuatku kewalahan pada diriku sendiri, diam-diam aku mulai melepaskan t-shirt yang kupakai dan menggerayangi tubuhku sendiri.

Mas Ivan mulai tidak sabar dan langsung mencopoti kancing demi kancing yang ada di kemeja yang dikenakan Dea. Tersembullah payudara Dea yang begitu aduhai, putih mulus sekali seperti payudara Chinese, Dea segera mengangkat punggungnya, lalu Mas Ivan mencopot kancing BH-nya yang berwarna krem.

Wah.., payudara Dea benar-benar besar dan menggairahkan dengan puting susunya yang tebal dan berwarna coklat tua. “Ahh.., Hmm.., Hmm..”, Mereka berdua saling melenguh setiap kali Mas Ivan memainkan lidahnya di atas payudara dan puting susu Dea.

“Hmmh.., Hmhh..”, Setelah puas melumat puting susu Dea bergantian, Mas Ivan akhirnya menjilati perut Dea dan ingin melepaskan roknya. Dea mengangkat pantatnya, lalu Mas Ivan membuka risleting roknya dan pelan-pelan melepaskan rok yang dipakai Dea. Setelah sampai di lutut, Mas Ivan berhenti dan langsung menciumi kemaluan Dea yang masih tertutup celana dalam itu dengan cepat dan ganas.

“Ahh.., Ahh..”, Dea mengerang dan mendesah keras keenakan. Aku yang sejak tadi terangsang menjadi semakin terangsang mendengar desahan Dea yang sangat menggairahkan, membuatku tidak tahan dan mulai memegangi kemaluanku sendiri, menggesek-gesekkannya dengan tanganku.

Akhirnya Mas Ivan melepaskan celana dalam Dea dan langsung menciumi kemaluannya dengan ganas sekali. Rambut di kemaluan Dea cukup tipis, sehingga memudahkan Mas Ivan menjilatinya sepuasnya. Sesekali kudengar “Slurrp.., slurrp..”, sepertinya Mas Ivan suka sekali menyedot kemaluan Dea. “Ahh.., Zan.., Ahh.., Zan.., Enak Zan..”, desahan Dea semakin keras saja karena merasa nikmat, seakan tidak peduli kalau terdengar orang di luar.

Tidak berapa lama kemudian, Mas Ivan berhenti lalu bertanya, “Yen, boleh sekarang?” Sambil tetap merem, Dea cuma tersenyum dan mengangguk.
“Pelan-pelan yach..”, bisik Dea mesra. Kemudian Mas Ivan memasukkan penisnya ke dalam kemaluan Dea, “Uh.., uhh.., Ahh..”, Sedikit kesulitan yang mereka hadapi, sekarang Mas Ivan sudah mulai asyik menggesek-gesekkan penisnya dalam vagina Dea.
“Ahh.., ahh.., aduh.., ahh..”, Mereka berdua saling mendesah sambil terus melanjutkan permainannya. Dea masih tetap dengan stylenya, kadang menarikan pinggulnya pelan-pelan, lalu cepat, pelan lagi.
“Ahh.., Ahh.., Ahh..”, Mas Ivan memaju-mundurkan badannya pelan-pelan sedangkan Dea asyik menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan tempo yang tidak beraturan. Aku jadi semakin tidak tahan melihat apa yang mereka lakukan, aku segera berjalan menuju kamar mandi, langsung kulepas celana panjang dan celana dalamku dan kugesek-gesek kemaluanku sendiri cepat-cepat.

“Ahh.., Hmmh.., Ahh..”, Aku mendesah-desah kecil dengan apa yang kulakukan terhadap diriku sendiri. Lalu.., “aahh..”, Aku orgasme, spermaku semuanya terjatuh di lantai kamar mandi. Tubuhku rasanya nikmat sekali beberapa saat, lalu terasa lemas dan sepertinya aku merasa bersalah telah melakukannya. Aku segera menyiram ceceran sperma di lantai kamar mandi, melepas seluruh bajuku dan mandi.

Setelah segar, aku hampir tidak percaya waktu keluar ternyata mereka masih saja bermesraan bersetubuh. Aku langsung berjalan keluar kamar, sedangkan mereka tidak menghiraukanku sama sekali, benar-benar gila..!

Di luar, aku duduk-duduk saja di ruang tamu sambil ngobrol dengan Lenny dan teman-temannya yang kebetulan ciban semua. Mereka menawariku rokok tapi aku tolak. Setelah beberapa menit melakukan percakapan yang membosankan dan bikin mual, aku cuek saja dan asyik melihat TV, sambil menunggu Mas Ivan dan Dea selesai melakukan aktivitasnya. Menit demi menit berlalu, gila.., lama sekali.

Sekitar satu jam kemudian, muncullah mereka berdua dari pintu kamar Dea.
“Gilaa..”, pikirku, lama sekali mereka begituan. Mas Ivan dan Dea tersenyum geli pertama kali melihatku, mungkin mereka menganggap tingkahku di dalam kamar tadi lucu, lalu Mas Ivan bertanya.
“Don, kamu mau ikut renang?”.
“Mau sich.., tapi aku tidak bawa celana renang tuch..”, jawabku agak kecewa.
“Tidak pa-pa kok, ntar kita bisa pinjam celana renang di sana..”.
Ya sudah, akhirnya jadi dech.., Setelah berpamitan, Mas Ivan dan aku pulang. Di rumah kami langsung mempersiapkan segala kebutuhan renangnya.

Jam menunjukkan sekitar pukul 16.30, kami bersiap pergi. Tepat waktu Mas Ivan hendak menyalakan mobil, ada suara teriakan.
Ternyata sepupu Mas Ivan, “Mobilnya mau dibawa papanya lho..”, katanya.
“Sial!” gerutu Mas Ivan. Terus akhirnya Mas Ivan telepon taksi, beberapa menit kemudian datang, lalu kami ke tempat kos Dea dulu untuk menjemput Dea. Eh, ternyata tidak hanya Dea yang ikut, tapi adiknya, Lenny, diajak serta.
Aku tanya pada Lenny, “Lho, kok kamu ikut, katanya sakit tenggorokan. Nanti ikut renang?”.
“Iya dong.., tidak Papa, nemenin Dea nich..” jawabnya enteng. Wah, nekat juga ini anak, pikirku.

Taksi kami langsung meluncur ke Graha Residen, di sana ada kolam renangnya yang cukup besar dan ramai, termasuk para turis. Dea, Lenny, dan aku yang belum bisa berenang cuma berputar-putar saja di pinggiran, sedangkan Mas Ivan berkelana ke sana ke mari dengan bebasnya.

Waktu ada kesempatan, aku tanya pada Mas Ivan soal Dea. Ternyata dia baru kenal Dea dua minggu, dan pertemuan pertamanya di kolam renang. Seminggu kemudian mereka langsung pacaran, lalu besoknya mereka melakukan hubungan badan.

Mas Ivan baru pertama kali itu bersenggama, sedangkan Dea sepertinya sudah berkali-kali, soalnya kata Mas Ivan, Dea sudah tidak perawan lagi.
Mas Ivan juga bilang, “Kata Dea tuh si Lenny masih perawan, dianya agak menyesal juga pacaran sama Dea, bukan sama Lenny yang masih perawan”.

Aku sempat ngobrol juga sama Lenny, yang sepertinya cuma bersandar saja di pinggiran. Sekitar jam 19.00 kami selesai renang dalam keadaan menggigil kedinginan, lalu setelah itu memanggil taksi Zebra, karena entah kenapa, Graha Residen hanya menyediakan taksi Zebra. Tidak kuduga, ternyata taksinya lama sekali datangnya, kami ngobrol-ngobrol lama juga. Mas Ivan asyik ngobrol dengan Dea, sedangkan Lenny yang kelihatannya dicuekin mulai kuajak ngobrol.

Ternyata Lenny ini masih SMU kelas 2. Selain suka rokok, katanya dia juga suka minuman keras. Hmm, aku jadi mikir apakah dia juga suka obat-obatan dan.., free seks. Tapi aku tidak berani menanyakannya, terlalu dini ah. cuma yang aku perhatikan, Lenny agak tersipu-sipu menjawab pertanyaanku, dan dia tidak berani menatapku secara langsung, malah sepertinya menunduk terus. Good sign, pikirku.

Mungkin sekitar setengah jam kemudian baru taksinya datang. Lama banget sich..
Akhirnya sampai juga, setelah mengantarkan Dea dan Lenny, saya dan Mas Ivan pulang. Aku asyik memikirkan pengalamanku barusan, memperhatikan orang melakukan hubungan seks.

Sekitar jam 20.30, Mas Ivan mengajakku pergi, mau mengembalikan VCD. Ya sudah, aku ikut saja, siapa tahu diajak makan juga, berhubung perutku mulai lapar nich. Walau naik sepeda motor, kami tidak pakai helm, katanya tempat persewaan VCD-nya dekat.

Eh, ternyata memang dekat sekali dan tidak melewati jalan raya. Setelah itu Mas Ivan bertanya, “Don, aku mau mampir ke tempat Dea nich.. Kamu ikut tidak?”. Walau perutku agak keroncongan, berhubung aku “kangen” juga sama Lenny, pingin ngerjain gitu, akhirnya aku setuju.

Sesampainya di sana, ternyata banyak orang nongkrong di ruang tamu rumah kos itu. Uniknya, yang cewek cuma dua, Dea dan Lenny, lainnya ciban semua, ada 4 orang. Aneh sekali, pikirku. Begitu sampai, Mas Ivan langsung berciuman dengan Dea lalu mereka langsung masuk kamar dan.., klik, Aduh.., mau ngapain lagi mereka, gila bener..

Terpaksa, karena aku sudah telanjur di sana, aku ngobrol dengan orang-orang di situ. Aku sebetulnya lebih suka mengobrol dengan Lenny, tapi sayang teman-temannya selalu menggangguku.
“Ih kamu ganteng dech, kita main seks yuk..”.
Agak senang juga aku dipuji tapi main seks dengan mereka, mimpi saja tidak.
Lalu akhirnya aku punya ide, aku tanya Lenny, “Kamu satu kamar sama Dea, yach?”
“Tidak tuch, aku sewa kamar sendiri”, jawabnya.
Kebetulan, pikirku, “Hmm.., di mana tuch, aku lihat dong..”

Sesuai perkiraanku, akhirnya dia mau menunjukkan kamarnya. Kamarnya persis di depan kamar Dea, dan lebih tidak rapi dibanding kamar Dea. Sambil pura-pura mengamati kamarnya, aku lalu menutup pintu agar dia tidak curiga, aku langsung bertanya padanya, “Kamu suka tinggal di sini?”.

Lalu akhirnya kami ngobrol dan bercanda di atas ranjangnya, bersandar di tembok. Seperti yang kuduga, dia masih terus menunduk tersipu-sipu menjawab pertanyaanku, tidak seperti waktu dia ngobrol dengan teman-temannya, menguatkan istingku kalau sebetulnya dia suka padaku.

Di tengah-tengah obrolan, aku tanya, “Lenny, kamu kan suka ngerokok, apa tidak dimarahi cowokmu tuh?”.
Dia tertawa kecil, lalu menjawab, “Suka-suka aku dong, Don, aku belum punya cowo tuch..”.
Ahh.., kebetulan sekali, pikirku, lalu aku menggodanya, “Ah masa..? Aku tidak percaya ah.., Kamu kan cantik.., pasti banyak cowok yang ngelirik kamu..”
Rupanya dia agak GR juga dengan pujianku, lalu sambil ketawa lirih dia cuma bilang, “Ah kamu..”.
“Iya bener lhoh..”
Dia diam sebentar, lalu dia menoleh ke arahku, dan mulai memandangku. Aku menatapnya, lalu aku tersenyum. Kami berpandangan beberapa saat. Hmm, betapa cantiknya dia, pikirku.

Merasa ada kesempatan, segera kuarahkan tangan kananku pelan-pelan ke tangan kirinya, lalu kugenggam dan kuremas pelan-pelan. Dia agak kaget dan menghela napas panjang, seolah tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

Pelan-pelan pula, badanku kuhadapkan ke arahnya dan kutaruh tangan kiriku di pinggangnya, lalu wajahku mulai mendekati wajahnya. Aku mulai bisa merasakan nafasnya yang semakin cepat dan tidak beraturan. Akhirnya dia memejamkan mata, lalu kucium lembut keningnya, lalu pipi kanannya, lalu pipi kirinya.

Aku terdiam sebentar. Matanya masih tetap terpejam. lalu perlahan-lahan kucium bibirnya yang lembut itu. Dia membalas dengan menggerak-gerakkan mulutnya. Aku memeluknya, lalu kami saling mengulum bibir, lalu memainkan lidah.., Hmm nikmat sekali.

Beberapa saat kemudian, aku hentikan permainan bibir itu lalu aku terdiam. Matanya terbuka, tatap matanya serasa seperti bertanya-tanya. Lalu aku menciumi bibirnya lagi sambil pelan-pelan merebahkannya di atas ranjang.

Dia menurut saja, membuatku semakin bernafsu. Lalu aku cium dia pelan-pelan sedangkan tanganku meraba-raba dan meremas-remas payudaranya yang cukup besar, “Emhh.., Emh..” dia cuma melenguh saja membuat gairahku menjadi semakin naik saja.

Segera kusingkapkan T-Shirt yang dipakainya ke atas, lalu kuciumi dan kujilati dadanya yang aduhai itu, “Ahh..,
Emhh..”, badannya bergoyang-goyang kecil, membuat nafsuku semakin naik. Waktu mau kubuka kancing BH-nya, dia mengangkat badannya sehingga memudahkanku, lalu kujilati putingnya dan kuhisap-hisap selama beberapa menit, “Emhh.., Ahh.., Ahh..”

Aku sudah tidak tahan lagi, langsung kubuka celana panjangnya lalu kupelorotkan, kujilati kemaluannya dari luar sebentar, lalu segera kupelorotkan juga. Hmm.., ternyata rambut kemaluannya masih lebat, jauh lebih lebat daripada kakaknya, sedangkan lubang kemaluannya masih sangat rapat. Ahh.., baru percaya aku kalau dia masih perawan.

Kujilati clitoris vaginanya yang sangat menggairahkan itu, dia terengah-engah, “Ahh.., Ahh..”, dan sesekali tubuhnya menggelinjang. Kuhisap-hisap dan kujilati bagian dalam lubangnya. Hmm.., nikmat sekali, cairan yang keluar langsung saja kutelan.

Aku sudah tidak sabar lagi, tidak sampai 5 menit aku menjilati vaginanya, segera kupelorotkan celana panjang dan celana dalamku lalu pelan-pelan kumasukkan penisku ke dalam lubang senggama Lenny. Uhh.., agak sulit juga tapi berhubung cairannya sudah cukup banyak, akhirnya masuk juga, kurasakan ada sesuatu yang menghalangi laju penisku, sepertinya selaput daranya namun kuteruskan saja pelan-pelan.

“Aduh!”, pekiknya.
“Lenny, sakit ya? Tahan ya..”, Aku terdiam sebentar, menunggu agar sakitnya hilang, lalu mulai kumasukkan lebih dalam lagi pelan-pelan.
“Lenny, masih sakit..?”.
“Iya.., tapi sudah agak.., ahh..”, Pelan-pelan sekali kumaju-mundurkan penisku di dalam vaginanya. Hmm, benar-benar nikmat.., benar-benar rapat sekali vaginanya, menjepit penisku yang merasa keenakan.
“Ahh.., ahh.., hmmhh..” akhirnya dia mulai merasa nikmat, aku jadi berani mempercepat gerakanku.
“Ahh.., Ahh.., Ahh..” Mungkin cuma sekitar 3 menit, dia sudah mulai terangsang sekali.”Ah.., Don.., Ah Don.., Aku sepertinya mau.., ahh..”, Sepertinya dia mau orgasme, akhirnya kupercepat gerakanku dan, “Ahh.., Ahh nikmat Don.., aduh nikmat sekali Don..”. Aku belum orgasme, lalu kutarik penisku dan kugesek-gesek sendiri dengan cepat dengan tanganku. “Ahh..”, akhirnya aku orgasme juga, spermaku bertebaran di perutnya.

Setelah kami membersihkan spermaku, kami mandi bersama-sama, setelah itu kami ngobrol-ngobrol juga di atas ranjang, sambil bermesraan layaknya orang pacaran. Tapi sungguHPun begitu, aku tidak mencintai dia sama sekali dan tidak menganggapnya sebagai pacar, walaupun sebetulnya aku sendiri juga belum punya pacar, jahat juga yah aku.

Beberapa puluh menit kemudian pintu diketuk oleh Mas Ivan dan akhirnya kamipun pulang, sampai di rumah sudah sekitar jam 11 malam. Begitu melelahkan.., namun begitu nikmat. Aku baru bisa tidur sekitar jam 2 pagi, entahlah, membayangkan macam-macam.

Cerita Dewasa, Cerita Sex, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Foto Bugil, Streaming Bokep, Video Bokep, Video Mesum, Tips Bercinta

Agen Judi Taruhan Bola Online Terbesar Dan Terpercaya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY