Nikmatnya Dua Memek Basah

0
802 views
Cerita Dewasa Nikmatnya Dua Memek Basah
KlipDewasa.com
Poker Online Terpercaya

Kumpulan Cerita & Foto Sex, Dewasa, Bugil, Bokep, Tips Bercinta Terlengkap : Cerita Dewasa Nikmatnya Dua Memek Basah – Perkenalkan namaku Johan saat aku mahasiswa di kota jambi umurku 25 tahun , aku termasuk idola di kampusku, saking tampannya aku banyak wanita yang betah bila berpacaran denganku hehe, bukannya cakap tinggi lho atau sombong kali ini aku akan ceritakan kisahku yang orisinil dari pengalamanku tentang yang namanya Seks.

Karena aku mempunyai banyak cewek teman sekampusku menyebut aku adalah cowok Playboy , sekian cewek yang aku pacari ada satu yang membuat aku cinta namanya Linda , dia memang sosok cewek yang bisa membuat hatiku nyaman dengannya, tapi didalam cerita ini tidak ada sangkutan dengan Linda.

Cerita Dewasa Nikmatnya Dua Memek Basah

Nikmatnya Dua Memek Basah

Aku dan Linda sudah setengah tahun berpacaran, tapi belum pernah bisa merasakan bersenggama dengan dia, ngasih cium aja gak pernah, huhhh jutek banget sama dia, ceritanya saat aku ngapel di kostnya Linda saat itu aku habis nonton film Blue libidoku naik aku ingin Bersetubuh dengan Lindah, tapi sampenya di kostnya di tolak mentah mentah malahan menasehati aku.

Dari situlah malam minggu itu aku nggak ngapel (ceritanya ngambek). Aku cuman duduk-duduk sambil gitaran di teras kamar kostku. Semua teman kostku pada ngapel atau entah nglayap kemana. Rumah induk yang kebetulan bersebelahan dengan rumah kost agak sepi suasananya.

Sebab sejak tadi sore ibu dan bapak Pemilik kost pergi ke kondangan. Putri tertua mereka, Mita sudah dijemput pacarnya Dua jam yang lalu. Sedang Cindy, adiknya Mita entah nglayap kemana

Yang ada tinggal Mulan, si bungsu dan Neni, sepupunya yang kebetulan lagi berkunjung ke rumah oomnya. Terdengar irama lagu India dari dalam rumah Kost, pasti mereka lagi asyik menonton Film India Gala Bollywood.

Nggak tahu, entah karena suaraku yang merdu atau mungkin karena suaraku fals plus berisik, Mulan datang menghampiriku.

“Lagi nggak ngapel nih, Mas Johan?” sapanya ramah (perlu diketahui kalau Mulan memang orangnya ramah banget)

“Aku mauNgapel sama siapa, Mulan?” jawabku sambil terus tersenyum dan memainkan gitar.

“Ah… Mas Johan ini pura-pura lupa sama pacarnya.”

Lalu gadis itu duduk di sampingku (ketika dia duduk sebagian paha mulusnya terlihat sebab Mulan cuman pakai kulot sebatas lutut). Aku hanya Menelan liur aja.

“ Aku dan pacarku udah putus .” jawabku kemudian.

Nggak tahu kenapa deh, tapi aku menangkap ada yang aneh dari gelagat Mulan. Gadis 15 tahun itu nampaknya senang mendengar aku putus. Tapi dia berusaha menutup-nutupinya.

“Yah, kacian deh… habis putus sama pacar ya?” godanya. “Kayaknya galau banget nich lagunya.”
Aku menghentikan petikan gitarku.

“Yah, gimana ya… kayaknya aku lebih suka sama Mulan deh ketimbang sama dia.”

Nah lo! Kentara benar perubahan wajahnya. Gadis berkulit langsep agak gelap itu merah mukanya.Saat itu aku berpikir, apa bener ya gosip yang beredar di tempat kost ini kalo si Mulan ada mau sama aku.

“Mulan, kok diam aja sich? Malu yah…”

Mulan melirik ke arahku dengan manja. Tiba-tiba saja batinku ngrasani, gadis yang duduk di sampingku ini manis juga yah. Masih duduk di kelas dua smp tapi kok perawakannya udah kayak anak sma aja.

Tinggi langsing semampai, bodinya bibit-bibit peragawati, payudaranya… waduh kok besar juga ya. Tiba-tiba saja jantungku berdebar memandangi tubuh Mulan yang cuman pakai kaos ketat tanpa lengan itu.

Belahan dadanya sedikit tampak diantara kancing-kancing manisnya. Ih, adikku terbangun waktu aku melirik pahanya yang makin kelihatan. Kulit paha itu ditumbuhi bulu-bulu halus tapi cukup lebat seukuran cewek.

“Mas, daripada gak ada kerjaan gimana kalo Mas Johan bantu aku ngerjain peer bahasa inggris?”

“Yah Mulan, malam minggu kok ngerjain peer? Mendingan pacaran sama Mas Johan, iya nggak?” pancingku.

“Ah, Mas Johan ini bisa aja godain Mulan..”

Mulan mencubit pahaku sekilas. Siir.. Wuih, kok rasanya begini. Gimana nih, aku kok kayak-kayak nafsu sama ini bocah. Waduh, penisku kok makin ngaceng nich ?

“Mau nggak Mas, tolong Mulan?”

“Ada imbalan nggak?”

“Iiih, dimintai tolong kok minta imbalan sih…”

Cubitan kecil Maya kembali memburu di pahaku. Siiiir… kok malah tambah merinding begini ya?

“Kalau di imbalan sun sih Mas Johan mau loh.” pancingku sekali lagi.

“Aah… Mas Johan nakal deh…”

Sekali lagi Mulan mencubit pahaku. Kali ini aku menahan tangan Mulan biar tetap di pahaku. Busyet, gadis itu nggak nolak loh. Dia cuman diam sambil menahan malu.

“Ya udah, Mulan ambil bukunya trus ngerjain peernya di kamar Mas Johan aja. Nanti tak bantu ngerjain peer, tak kasih bonus pelajaran pacaran mau?”

Gadis itu cuman senyum saja kemudian masuk rumah induk. Asyik… pasti deh dia mau. Benar saja, nggak sampai dua menit aku sudah bisa menggiringnya ke kamar kostku.

Kami terpaksa duduk di ranjang yang cuman satu-satunya di kamar itu. Pintu sudah aku tutup, tapi nggak aku kunci. Aku sengaja nggak segera membantunya ngerjain peer, aku ajak aja dia ngobrol.

“Sudah bilang sama Neni kalo kamu kemari?”

“Iya sudah, aku bilang ke tempat Mas Johan.”

“Trus si Neni gimana? Nggak marah?”

“Ya enggak, ngapain marah.”

“Sendirian dong dia?”

“Mas Johan kok nanyain Neni mulu sih? Sukanya sama Neni ya?” ujar Mulan Degan wajah merajuk.

“Yee… Maya marah. Cemburu ya?”

Mulan merengut, tapi sebentar sudah tidak lagi. Dibuka-bukanya buku yang dia bawa dari rumah induk.

“Maya udah punya pacar belum?”tanyaku memancing.

“Belum tuh.”

“Pacaran juga belum pernah?”
“Katanya Mas Johan mau ngajarin Mulan pacaran.” balas Mulan.

“Mulan mau benar nich?” Gayung bersambut nih, pikirku.

“Pacaran itu dasarnya harus ada suka.” lanjutku ketika kulihar Mulan tertunduk malu. “Mulan suka sama mas Johan?”

Mulan memandangku penuh arti. Matanya seakan ingin bersorak mengiyakan pertanyaanku. tapi aku butuh jawaban yang bisa didengar. Aku duduk merapat pada Mulan.

“Mulan suka sama Mas Johan?” ulangku.

“Iya.” gumamnya lirih.

Bener!! Dia suka sama aku. Kalau gitu aku boleh…

“Mas Johan mau ngesun Mulan, Mulan nurut aja yah…” bisikku ke telinga Mulan

Tanganku mengusap rambutnya dan wajah kami makin dekat. Mulan menutup matanya lalu membasahi bibirnya (aku bener-bener bersorak sorai). Kemudian bibirku menyentuh bibirnya yang seksi itu, lembut banget. Kulumat bibir bawahnya perlahan tapi penuh dengan hasrat, nafasnya mulai berat. Lumatanku semakin cepat sambil sekali-sekali kugigit bibirnya.

Mmm..muah… kuhisap bibir ranum itu.

“Engh.. emmh..” Mulan mulai melenguh.

Nafasnya mulai tak beraturan. Matanya terpejam rapat seakan diantara hitam terbayang lidah-lidah kami yang saling bertarung, dan saling menggigit.

Tanganku tanpa harus diperintah sudah menyusup masuk ke balik kaos ketatnya. Kuperas-peras payudara Mulan penuh perasaan. ereksiku semakin menyala ketika gundukan hangat itu terasa kenyal di ujung jari-jariku.

Bibirku merayap menyapu leher jenjang Mulan. Aku cumbui leher wangi itu. Kupagut sambil kusedot perlahan sambil kutahan beberapa saat. Gigitan kecilku merajang-rajang birahi Mulan.

“Engh.. Masss… jangan… aku uuuh…”

Ketika kulepaskan maka nampaklah bekasnya memerah menghias di leher Mulan.

“ kaosnya dilepas ya sayang…”

Gadis itu hanya menggangguk. Matanya masih terpejam rapat tapi bibirnya menyunggingkan senyum. Nafasnya memburu. Sambil menahan birahi, kubuka keempat kancing kaos Maya satu persatu dengan tangan kananku.

Sedang tangan kiriku masih terus meremas payudara Mulan bergantian dari balik kaos. Tak tega rasanya membiarkan Maya kehilangan kenikmatannya. Jemari Mulan menggelitik di dada dan perutku, membuka paksa hem lusuh yang aku kenakan. Aku menggeliat-geliat menahan amukan asmara yang Mulan ciptakan.

Kaos pink Mulan terjatuh di ranjang. Mataku melebar memandangi dua gundukan manis tertutup kain pink tipis. Kupeluk tubuh Mulan dan kembali kuciumi leher jenjang gadis manis itu, aroma wangi dan keringatnya berbaur membuatku semakin bergairah untuk membuat hiasan-hiasan merah di lehernya.Perlahan-lahan kutarik pengait BH-nya, hingga sekali tarik saja BH itupun telah gugur ke ranjang. Dua gundukan daging itupun menghangat di ulu hatiku.

Kubaringkan perlahan-lahan tubuh semampai itu di ranjang. Wow… payudara Mulan (yang kira-kira ukuran 34) membengkak. Ujungnya yang merah kecoklatan menggairahkan banget. Beberapa kali aku menelan ludah memandangi payudara Mulan. Ketika merasakan tak ada yang kuperbuat, Mulan memicingkan mata.

“Mulan… buahnya udah gede banget …”

“Udah waktunya dipetik ya mass…”

“Ehem, biar aku yang metik ya yang…”

Aku berada di atas Mulan. Tanganku segera bekerja menciptakan kenikmatan demi kenikmatan di dada Mulan.

Putar… putar.. kuusap memutar pentel bengkak itu.

“Auh…Mass.. Aku nggak tahan Mass… kayak kebelet pipis mas..” rintih Mulan.

Tak aku hiraukan rintihan itu. Aku segera menyomot payudara Mulan dengan mulutku.

“Mmmm… suuup… mmm…” kukenyot-kenyot lalu aku sedot putingnya.

“Mass… sakiit…” rintih Maya sambil memegangi vaginanya.

Sekali lagi tak aku hiraukan rintihan itu. Bagiku menggilir payudara Mulan sangat menyenangkan. Justru rintihan-rintihan itu menambah rasa nikmat yang tercipta.

Tapi lama kelamaan aku tak tega juga membuat Mulan menahan kencing. Jadi aku lorot saja celananya. Dan ternyata CD pink yang dikenakan Mulan telah basah.

“Mulan kencing di celana ya Mass?”

“Bukan sayang, ini bukan kencing. Cuman lendir vaginamu yang cantik ini.”

Mulan tertawa mengikik ketika telapak tanganku kugosok-gogokkan di permukaan vaginanya yang telah basah. Karena geli selakangnya membuka lebar.

Vaginanya ditumbuhi bulu lebat yang terawat. Lubang kawin itu mengkilap oleh lendir-lendir kenikmatan Mulan. Merah merona, vagina yang masih perawan.

Tak tahan aku melihat ayunya lubang kawin itu. Segera aku keluarkan penisku dari sangkarnya. Kemudian aku jejalkan ke pangkal selakangan yang membuka itu.

“Tahan ya sayang…engh..”

“Aduh… sakiiit mass…”

“Egh… rileks aja….”

“Mas… aah!!!” Mulan menjambak rambutku dengan liar.

Slup… batang penisku yang perkasa menembus goa perawan Mulan yang masih sempit. Untung saja vagina itu berair jadi nggak terlalu sulit memasukkannya. Perlahan-lahan, dua centi lima centi masih sempit sekali.

“Aduuuh Masss… sakiiit…” rintih Mulan.

Aku hentakkan batang penisku sekuat tenaga.
“Jruub…”

Langsung amblas seketika sampai ujungnya menyentuh dinding rahim Mulan. Batang penisku berdenyut-denyut sedikit sakit bagai digencet dua tembok tebal. Ujungnya tersentuh sesuatu cairan yang hangat. Aku tarik kembali penisku. Lalu masukkan lagi, keluar lagi begitu berkali-kali. Rasa sakitnya berangsur-angsur hilang.

Aku tuntun penisku bergoyang-goyang.

“Sakit sayang…” kataku.

“Enakkk…eungh…” Mulan menyukainya.

Ia pun ikut mengggoyang-goyangkan pantatnya. Makin lama makin keras sampai-sampai ranjang itu berdecit-decit. Sampai-sampai tubuh Mulan berayun-ayun. Sampai-sampai kedua gunung kembar Mulan melonjak-lonjak. Segera aku tangkap kedua gunung itu dengan tanganku.

“Enggh.. ahhh..” desis Mulan ketika tanganku mulai meremas-remasnya.

“Mass aku mau pipis…”

“Pipis aja Mul… nggak papa kok.”

“Aaach…!!!”

“Hegh…engh…”

“Suuur… crot.. crot.. “

Lendir kawin Mulan keluar, spermaku juga ikut-ikutan muncrat. Kami telah sama-sama mencapai orgasme.

“Ah…” lega. Kutarik kembali penisku nan perkasa. Darah perawan Mulan menempel di ujungnya berbaur dengan maniku dan cairan kawinnya. Kupeluk dan kuciumi gadis yang baru memberiku kepuasan itu. Mulan pun terlelap kecapaian.

Kreek… Pintu kamarku dibuka. Aku segera menengok ke arah pintu dengan blingsatan. Neni terpaku di depan pintu memandangi tubuh Mulan yang tergeletak bugil di ranjang kemudian ganti memandangi penisku yang sudah mulai melemas. Tapi aku juga ikut terpaku kala melihat Neni yang sudah bugil abis. Aku tidak tahu tahu kalau sejak Mulan masuk tadi Neni mengintip di depan kamar.

“Neni? Ng… anu..” antara takut dan nafsu aku pandangi Neni.

Gadis ini lebih tua dua tahun diatas Mulan. Pantas saja kalau dia lebih matang dari Mulan. Walau wajahnya tak bisa menandingi keayuan Mulan, tapi tubuhnya tak kalah menarik dibanding Mulan, apalagi dalam keadaan full naked kayak gitu.

“Aku nggak akan bilang ke oom dan tante asal…”

“Asal apaan?”

Mata Neni sayu memandang ke arah Mulan dan penisku bergantian. Lalu dia membelai-belai payudara dan vaginanya sendiri. Tangan kirinya bermain-main di belahan vaginanya yang telah basah. Neni sengaja memancing birahiku.

Melihat adegan itu, gairahku bangkit kembali, penisku ereksi lagi. Tapi aku masih ingin Neni membarakan gairahku lebih jauh.

Neni duduk di atas meja belajarku. Posisi kakinya mekangkang sehingga vaginanya membuka merekah merah. Tangannya masih terus meremas-remas susunya sendiri. Mengangkatnya tinggi seakan menawarkan segumpal daging itu kepadaku.

“Mas Johan.. sini.. ay…”

Aku tak peduli dia mengikik bagai perek. Aku berdiri di depan gadis itu.
“Ayo.. mas mainin aku lebih hot lagi..” pintanya penuh hasrat.

Aku gantiin Neni meremas-remas payudaranya yang ukuran 36 itu. Puting diujungnya sudah bengkak dan keras, tanda Neni sudah nafsu banget. “Eahh.. mmhh…” rintihannya sexy sekali membuatku semakin memperkencang remasanku.

“Eahhh.. mas.. sakit.. enak….”

Neni memainkan jarinya di penisku. Mempermainkan buah jakarku membuatku melenguh keasyikan. “Ers… tanganmu nakal banget…” Gadis itu cuman tertawa mengikik tapi terus mempermainkan senjataku itu. Karena gemas aku caplok susu-susu Neni bergantian. Kukenyot sambil aku tiup-tiup.

“Auh…”

Neni menekan batang penisku.

“Ers… sakit sayang” keluhku diantara payudara Neni.

“Habis dingin kan mas…” balasnya.

Setelah puas aku pandangi wajah Neni.

“Neni, mau gaya baru Mas Johan?”

Gadis itu mengangguk penuh semangat.

“Kalau gitu Neni tiduran di lantai gih!”

Neni menurut saja ketika aku baringkan di lantai. Ketika aku hendak berbalik, Neni mencekal lenganku. Gadis yang sudah gugur rasa malunya itu segera merengkuhku untuk melumat bibirnya.

Serangan lidahnya menggila di ronga mulutku sehingga aku harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk mengimbanginya. Tanganku dituntunnya mengusap-usap lubang kelaminnya. Tentu saja aku langsung tanggap. Jari-jariku bermain diantara belantara hitam nan lebat diatas bukit berkawah itu. “Mmmm… enghh…”

Kami saling melenguh merasakan sejuta nikmat yang tercipta.

Aku ikut-ikutan merebah di lantai. Aku arahkan Neni untuk mengambil posisi 69, tapi kali ini aku yang berada di bawah. Setelah siap, tanpa harus diperintah Neni segera membenamkan penisku ke dalam mulutnya (aku jadi berpikiran kalau bocah ini sudah berpengalaman).

Neni bersemangat sekali melumat penisku yang sejak tadi berdenyut-denyut nikmat. Demikian juga aku, begitu nikmatnya menjilati lendir-lendir di setiap jengkal vagina Neni, sedang jariku bermain-main di kedua payudaranya.

Srup srup, demikian bunyinya ketika kusedot lendir itu dari lubang vagina Neni. Ukuran vagina Neni sedikit lebih besar dibanding milik Mulan, bulu-bulunya juga lebih lebat milik Neni. Dan klitorisnya… mmm… mungil merah kenyal dan mengasyikkan. Jadi jangan ngiri kalo aku bener-bener melumatnya dengan lahap.

“Ngngehhh…uuuhh..” lenguh Neni sambil terus melumat senjataku.

Sedang lendir kawinnya keluar terus.

“Erss… isep sayang, iseppp…” kataku ketika aku merasa mau keluar.

Neni menghisap kuat-kuat penisku dan crooott… cairan putih kental sudah penuh di lubang mulut Neni. Neni berhenti melumat penisku, kemudian dia terlentang dilantai (tidak lagi menunggangiku). Aku heran dan memandangnya.

“Aha…” ternyata dia menikmati rasa spermaku yang juga belepotan di wajahnya, dasar bocah gemblung.

Beberapa saat kemudian dia kembali menyerang penisku. Mendapat serangan seperti itu, aku malah ganti menyerangnya. Aku tumbruk dia, kulumat bibirnya dengan buas. Tapi tak lama Neni berbisik, “Mas.. aku udah nggak tahan…”

Sambil berbisik Neni memegangi penisku dengan maksud menusukannya ke dalam vaginanya.

Aku minta Neni menungging, dan aku siap menusukkan penisku yang perkasa. penisku itu makin tegang ketika menyentuh bibir vagina. Kutusuk masuk senjataku melewati liang sempit itu.

“Sakit Mas…”

Sulitnya masuk liang kawin Neni, untung saja dindingnya sudah basah sejak tadi jadi aku tak terlalu ngoyo.

“Nggeh… dikit lagi Ers…”

“Eeehhh… waaa!!”

“Jlub…” 15 centi batang penisku amblas sudah dikenyot liang kawin Neni. Aku diamkan sebentar lalu aku kocok-kocok seirama desah nafas.

“Eeehh… terus mass… uhh…”

Gadis itu menggeliat-geliat nikmat. Darah merembes di selakangnya. Entah sadar atau tidak tangan Neni meremas-remas payudaranya sendiri.

Lima belas menit penisku bermain petak umpet di vagina Neni. Rupaya gadis itu enggan melepaskan penisku. Berulang-ulang kali spermaku muncrat di liang rahimnya. Merulang-ulang kali Neni menjerit menandakan bahwa ia berada dipucuk-pucuk kepuasan tertinggi. Hingga akhirnya Neni kelelahan dan memilih tidur terlentang di samping Mulan.

Capek sekali rasanya menggarap dua daun muda ini. Aku tak tahu apa mereka menyesal dengan kejadian malam ini. Yang pasti aku tak menyesal perjakaku hilang di vagina-vagina mereka. Habisnya puas banget. Setidaknya aku bisa mengobati kekecewaanku kepada Linda.

Malam makin sepi. Sebelum yang lain pada pulang, aku segera memindahkan tubuh Mulan ke kamarnya lengkap dengan pakaiannya. Begitu juga dengan Neni. Dan malam ini aku sibuk bergaya berpura-pura tak tahu-menahu dengan kejadian barusan. Lagipula tak ada bukti, bekas cipokan di leher Mulan sudah memudar.

He.. he.. he.. mereka akan mengira ini hanya mimpi.

Cerita Dewasa, Cerita Sex, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Foto Bugil, Streaming Bokep, Video Bokep, Video Mesum, Tips Bercinta

Agen Judi Taruhan Bola Online Terbesar Dan Terpercaya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY