Cerita Seks Nafsu Tinggiku

0
283 views
Cerita Ngentot Nafsu Tinggiku
KlipDewasa.com
Poker Online Terpercaya

Kumpulan Cerita & Foto Sex, Dewasa, Bugil, Bokep, Tips Bercinta Terlengkap : Cerita Ngentot Nafsu Tinggiku – Kami sudah menikah Alvin sebagai istriku yang cantik dan perhatiannya kepadaku , saat aku pulang dari maen di luar saat masuk kamar aku melihat istriku Alvin yang sedang memakai baju tidurnya, dan pasti dia habis membersihkan wajahnya, dikar tidur kami memang terdpat kamar mandi dala dan televisi,

Saat itu nafsu birahiku memuncak melihat istriku yang seksi. Alvin yang berbaring disampingku dan memajamkan matanya, waduhhh dia mau tidur rupanya, padahal si Ujang sudah mengeras minta jatah mala mini. Bilangku.

Cerita Ngentot Nafsu Tinggiku

cerita sex ngentot, cerita ngentot terbaru, cerita orang ngentot, kumpulan cerita ngentot, ngentot cerita, cerita hot ngentot, cerita nyata ngentot, koleksi cerita ngentot, cerita ngentot baru, kumpulan cerita ngentot terbaru

“Alvin kok tidur sih” Dengan mata yang masih tertutup alivin mendekatkan wajahnya kewajahku memberi sentuhan kecupan yang manis di pipiku cup..burungku yang semakin keras ini mengebu ngebu untuk di permainkan mala mini.

“Tidur yang nyenyak yaa…” katanya perlahan.Lalu ia kembali berbaring dan memejamkan matanya. Tidur! Nah lho? Sial benar. Cuma begitu saja? Aku terbengong beberapa saat.”Alvin!..!” aku mengguncang-guncang tubuhnya.”Umm… udah maleem… Alvin ngantuk niih…”Kalau sudah begitu, percuma saja. Dia tidak akan bangun. Padahal aku sedang birahi tinggi dan butuh pernyaluran. Si “ujang” masih tegang dan penasaran minta jatah.

Begitulah Alvin. Sebagai istri, dia hampir sempurna. Wajah dan fisiknya enak dilihat, sifatnya baik dan menarik. Perhatiannya pada kebutuhanku sehari-hari sangat cukup. Hanya saja, kalau di tempat tidur dia sangat “hemat”.

Nafsuku terbilang tinggi. Sedangkan Alvin, entah kenapa (menurutku) hampir tidak punya nafsu seks. Tidak heran meskipun sudah lebih setahun kami menikah, sampai saat ini kami belum punya anak. Untuk pelampiasan, aku terkadang selingkuh dengan wanita lain. Alvin bukannya tidak tahu. Tapi tampaknya dia tidak terlalu mempermasalahkannya.

Nafsuku sulit ditahan. Rasanya ingin kupaksa saja Alvin untuk melayaniku. Tapi melihat wajahnya yang sedang pulas, aku jadi tidak tega. Kucium rambutnya. Akhirnya kuputuskan untuk tidur sambil memeluk Alvin. Siapa tahu dalam mimpi, Alvin mau memuaskanku? Hehehe…

Esoknya saat jam istirahat kantor, aku makan siang di Citraland Mall. Tidak disangka, disana aku bertemu dengan Ami, sahabatku dan Alvin semasa kuliah dahulu. Kulihat Ami bersama dengan seorang wanita yang mirip dengannya.

Seingatku, Ami tidak punya adik. Ternyata setelah kami diperkenalkan, wanita itu adalah adik sepupu Ami. Felis namanya. Heran juga aku, kok saudara sepupu bisa semirip itu ya? Pendek kata, akhirnya kami makan satu meja.

Sambil makan, kami mengobrol. Ternyata Felis seperti juga Ami, tipe yang mudah akrab dengan orang baru. Terbukti dia tidak canggung mengobrol denganku. Ketika aku menanyakan tentang Joe (suami Ami, sahabatku semasa kuliah), Ami bilang bahwa Joe sedang pergi ke Surabaya sekitar dua minggu yang lalu untuk suatu keperluan.

“Paling juga disana dia main cewek!” begitu komentar Ami. Aku hanya manggut-manggut saja. Aku kenal baik dengan Joe, dan bukan hal yang aneh kalau Joe ada main dengan wanita lain disana. Saat Felis permisi untuk ke toilet, Ami langsung bertanya padaku.”Van, loe ama Alvin gimana?””Baek. Kenapa?” “Dari dulu loe itu kan juga terkenal suka main cewek. Kok bisa ya akur ama Alvin?” Aku diam saja.

Aku dan Alvin memang lumayan akur. Tapi di ranjang jelas ada masalah. Kalau dituruti nafsuku, pasti setiap hari aku minta jatah dari Alvin. Tapi kalau Alvin dituruti, paling hebat sebulan dijatah empat atau lima kali! Itu juga harus main paksa. Seingatku pernah terjadi dalam sebulan aku hanya dua kali dijatah Alvin. Jelas saja aku selingkuh! Mana tahan?

“Kok diem, Van?” pertanyaan Ami membuyarkan lamunanku. “Nggak kok…””Loe lagi punya masalah ya?””Nggaak…””Jujur aja deh…” Ami mendesak.Kulirik Ami. Wuih, nafsuku muncul. Aku jadi teringat saat pesta di rumah Joe. Karena nafsuku sudah sampai ke ubun-ubun, maka akal sehatku pun hilang.

“Cerita doong..!” Ami kembali mendesak.”Mi.., loe mau pesta “assoy” lagi nggak?” aku memulai. Ami kelihatan kaget.”Eh? Loe jangan macem-macem ya Van!” kecam Ami.Aduh.., kelihatannya dia marah.”Sorry! Sorry! Gue nggak serius… sorry yaa…” aku sedikit panik.
Tiba-tiba Ami tertawa kecil.”Keliatannya loe emang punya masalah deh… Oke, nanti sore kita ketemu lagi di sini ya? Gue juga di rumah nggak ada kerjaan.”Saat itu Felis kembali dari toilet. Kami melanjutkan mengobrol sebentar, setelah itu aku kembali ke kantor.

Jam 5 sore aku pulang kantor, dan langsung menuju tempat yang dijanjikan. Sekitar sepuluh menit aku menunggu sebelum akhirnya telepon genggamku berdering. Dari Ami, menanyakan dimana aku berada.

Setelah bertemu, Ami langsung mengajakku naik ke mobilnya. Mobilku kutinggalkan disana. Di jalan Ami langsung menanyaiku tanpa basa-basi.”Van, loe lagi butuh seks ya?”Aku kaget juga ditanya seperti itu. “Maksud loe?””Loe nggak usah malu ama gue. Emangnya Alvin kenapa?”Aku menghela nafas.

Akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan uneg-unegku. “Mi… Alvin itu susah banget… dia bener-bener pelit kalo soal begitu. Loe bayangin aja, gue selalu nafsu kalo ngeliat dia. Tapi dia hampir nggak pernah ngerespon. Kan nafsu gue numpuk? Gue butuh penyaluran dong! Untung badannya kecil, jadi kadang-kadang gue paksa dia.

“Ami tertawa. “Maksudnya loe perkosa dia ya? Lucu deh, masa istri sendiri diperkosa sih?””Dia nggak marah kok. Lagi gue perkosanya nggak kasar.””Mana ada perkosa nggak kasar?” Ami tertawa lagi. “Dan kalo dia nggak marah, perkosa aja dia tiap hari.””Kasian juga kalo diperkosa tiap hari. Gue nggak tega kalo begitu…”

“Jadi kalo sekali-sekali tega ya?””Yah… namanya juga kepepet… Udah deh… nggak usah ngomongin Alvin lagi ya?””Oke… kita juga hampir sampe nih…” Aku heran. Ternyata Ami menuju ke sebuah apartemen di Jakarta Barat.

Dari tadi aku tidak menyadarinya. “Mi, apartemen siapa nih?””Apartemennya Felis. Pokoknya kita masuk dulu deh…” Felis menyambut kami berdua. Setelah itu aku menunggu di sebuah kursi, sementara Felis dan Ami masuk ke kamar.

Tidak lama kemudian Ami memanggilku dari balik pintu kamar tersebut. Dan ketika aku masuk, si “ujang” langsung terbangun, sebab kulihat Ami dan Felis tidak memakai pakaian sama sekali. Mataku tidak berkedip melihat pemandangan hebat itu. Dua wanita yang cantik yang wajahnya mirip sedang bertelanjang bulat di depanku. Mimpi apa aku?

“Kok bengong Van? Katanya loe lagi butuh? Ayo sini..!” panggil Ami lembut.Aku menurut bagai dihipnotis. Felis duduk bersimpuh di ranjang.”Ayo berbaring disini, Mas Ivan.”Aku berbaring di ranjang dengan berbantalkan paha Felis.

Kulihat dari sudut pandangku, kedua bagian bawah payudara Felis yang menggantung mempesona. Ukurannya lumayan juga. Felis langsung melucuti pakaian atasku, sementara Ami melucuti pakaianku bagian bawah, sampai akhirnya aku benar-benar telanjang. Batang kemaluanku mengacung keras menandakan nafsuku yang bergolak.

“Gue pijat dulu yaa…” kata Ami.Kemudian Ami menjepit kemaluanku dengan kedua payudaranya yang montok itu. Ohh.., kurasakan pijatan daging lembut itu pada kemaluanku. Rasanya benar-benar nyaman. Kulihat Ami tersenyum kepadaku. Aku hanya mengamati bagaimana kedua payudara Ami yang sedang digunakan untuk memijat batang penisku.”Enak kan, Van?” Ami bertanya.Aku mengangguk. “Enak banget. Lembut…”

Felis meraih dan membimbing kedua tanganku dengan tangannya untuk mengenggam payudaranya. Dia membungkuk, sehingga kedua payudaranya menggantung bebas di depan wajahku.”Van, perah susu gue ya?” pintanya nakal.

Aku dengan senang hati melakukannya. Kuperah kedua susunya seperti memerah susu sapi, sehingga Felis merintih-rintih.”Ahh… aww… akh… terus.. Van… ahh… ahhh…”Payudara Felis terasa legit dan kenyal. Aku merasa seperti raja yang dilayani dua wanita cantik. Akhirnya Ami menghentikan pijatan spesialnya. Berganti tangan kanannya menggenggam pangkal si “ujang”.

“Dulu diwaktu pesta di rumah gue, kontol loe belum ngerasain lidah gue ya?” kata Ami, dan kemudian dengan cepat lidahnya menjulur menjilat si “ujang” tepat di bagian bawah lubangnya.Aku langsung merinding keenakan dibuatnya.

Dan beberapa detik kemudian kurasakan hangat, lembut, dan basah pada batang kemaluanku. Si “ujang” telah berada di dalam mulut Ami, tengah disedot dan dimainkan dengan lidahnya. Tidak hanya itu.

Ami juga sesekali mengemut telur kembarku sehingga menimbulkan rasa ngilu yang nikmat. Sedotan mulut Ami benar-benar membuatku terbuai, apalagi ketika ia menyedot-nyedot ujung kemaluanku dengan kuat. Enaknya tidak terlukiskan. Sampai kurasakan alat kelaminku berdenyut-denyut, siap untuk memuntahkan sperma.

“Mi… gue… udah mau.. ke.. luar…” Ami semakin intens mengulum dan menyedot, sehingga akhirnya kemaluanku menyemprotkan sperma berkali-kali ke dalam mulut Ami. Lemas badanku dibuatnya. Tanganku yang beraksi pada payudara Felis pun akhirnya berhenti. Ami terus mengulum dan menyedot kemaluanku, sehingga menimbulkan rasa ngilu yang amat sangat. Aku tidak tahan dibuatnya.

“Aahh… Ami… udahan dulu dong..!””Kok cepet banget keluar?” ledeknya.”Uaah.., gue kelewat nafsu sih.. maklum dong, selama ini ditahan terus.” aku membela diri.”Oke deh, kita istirahat sebentar.”

Ami lalu menindih tubuhku. Payudaranya menekan dadaku, begitu kenyal rasanya. Nafasnya hangat menerpa wajahku. Felis mengambil posisi di selangkanganku, menjilati kemaluanku. Gairahku perlahan-lahan bangkit kembali.

Kuraba-raba kemaluan Ami hingga akhirnya aku menemukan daging kenikmatannya. Kucubit pelan sehingga Ami mendesah perlahan. Kugunakan jari jempol dan telunjukku untuk memainkan daging tersebut, sementara jari manisku kugunakan untuk mengorek liang sanggamanya.

Desahan Ami semakin terdengar jelas. Kemaluannya terasa begitu basah. Sementara itu Felis terus saja menjilati kemaluanku. Tidak hanya itu, Felis mengosok-gosok mulut dan leher si “ujang”, sehingga sekali lagi bulu kudukku merinding menahan nikmat.

Kali ini aku merasa lebih siap untuk tempur, sehingga langsung saja aku membalik posisi tubuhku, menindih Ami yang sekarang jadi telentang. Dan langsung kusodok lubang sanggamanya dengan batang kemaluanku.

Ami mendesis pendek, lalu menghela nafasnya. Seluruh batang kemaluanku terbenam ke dalam rahim Ami. Aku mulai mengocok maju mundur. Ami melingkarkan tangannya memeluk tubuhku. Felis yang menganggur melakukan matsurbasi sambil mengamati kami berdua yang sedang bersatu dalam kenikmatan bersetubuh. Ami mengeluarkan jeritan-jeritan kecil, sampai akhirnya berteriak saat mencapai puncak kenikmatannya, berbeda denganku yang lebih kuat setelah sebelumnya mencapai orgasme.

Kucabut batang kemaluanku dari vagina Ami, dan langsung kuraih tubuh Felis. Untuk mengistirahatkan si “ujang”, aku menggunakan jari-jariku untuk mengobok-obok vagina Felis. Kugosok-gosok klitorisnya sehingga Felis mengerang keras. Kujilati dan kugigit lembut sekujur payudaranya, kanan dan kiri. Felis meremas rambutku, nafasnya terengah-engah dan memburu. Setelah kurasakan cukup merangsang Felis, aku bersedia untuk main course.

Felis nampaknya sudah siap untuk menerima seranganku, dan langsung mengambil doggy style. Vaginanya yang dihiasi bulu-bulu keriting nampak sudah basah kuyup. Kumasukkan kemaluanku ke dalam liang kenikmatannya dengan pelan tapi pasti.

Felis merintih-rintih keras saat proses penetrasi berlangsung. Setelah masuk seluruh penisku, kudiamkan beberapa saat untuk menikmati kehangatan yang diberikan oleh jepitan vagina Felis. Hangat sekali, lebih hangat dari milik Ami. Setelah itu kumulai menyodok Felis maju mundur.

Felis memang berisik sekali! Saat kami melakukan sanggama, teriakan-teriakannya terdengar kencang. Tapi aku suka juga mendengarnya. Kedua payudaranya bergelantungan bergerak liar seiring dengan gerakan kami.

Kupikir sayang kalau tidak dimanfaatkan, maka kuraih saja kedua danging kenyal tersebut dan langsung kuremas-remas sepuasnya. Nafsuku semakin memuncak, sehingga sodokanku semakin kupercepat, membuat Felis semakin keras mengeluarkan suara.”Aaahh… Aaahh… Gue keluaar… Aaah..” teriak Felis dengan lantang.

Felis terkulai lemas, sementara aku terus menyetubuhinya. Beberapa saat kemudian aku merasa mulai mendekati puncak kepuasan.”Fit… gue mau keluar nih…”Felis langsung melepaskan kemaluannya dari kemaluanku, dan langsung mengulum kemaluanku sehingga akhirnya aku memuntahkan spermaku di dalam mulut Felis, yang ditelan oleh Felis sampai habis.

Aku berbaring, capek. Nikmat dan puas sekali rasanya. Ami berbaring di sisiku. Payudaranya terasa lembut dan hangat menyentuh lengan kananku. Felis masih membersihkan batang kemaluanku dengan mulutnya.”Gimana Van? Puas?” Ami bertanya.”Puas banget deh… Otak gue ringan banget rasanya.””Gue mandi dulu ya?” Felis memotong pembicaraan kami.Lalu ia menuju kamar mandi.

“Gue begini juga karena gue lagi pengen kok. Joe udah dua minggu pergi. Nggak tau baliknya kapan.” Ami menjelaskan.”Nggak masalah kok. Gue juga emang lagi butuh sih. Lain kali juga gue nggak keberatan.””Huss! Sembarangan loe. Gue selingkuh cuma sekali-sekali aja, cuma pengen balas dendam ama Joe. Dia suka selingkuh juga sih! Beda kasusnya ama loe!”Aku diam saja. Ami bangkit dari ranjang dan mengingatkanku.”Udah hampir setengah delapan malem tuh. Nanti Alvin bingung lho!”

Aku jadi tersadar. Cepat-cepat kukenakan pakaianku, tanpa mandi terlebih dahulu. Setelah pamit dengan Felis, Ami mengantarku kembali ke Citraland. Disana kami berpisah, dan aku kembali ke rumah dengan mobilku. Di rumah, tentu saja Alvin menanyakan darimana saja aku sampai malam belum pulang. Kujawab saja aku habis makan malam bersama teman.

“Yaa… padahal Alvin udah siapin makan malem.” Alvin kelihatan kecewa.Sebenarnya aku belum makan malam. Aku lapar.”Ya udah, Ivan makan lagi aja deh… tapi Ivan mau mandi dulu.” kataku sambil mencium dahinya.Alvin kelihatan bingung, tapi tidak berkata apa-apa.

Cerita Dewasa, Cerita Sex, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Foto Bugil, Streaming Bokep, Video Bokep, Video Mesum, Tips Bercinta

Agen Judi Taruhan Bola Online Terbesar Dan Terpercaya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY