Cerita Seks Mama Ningsih Jablay

0
1,198 views
cerita seks
KlipDewasa.com
Poker Online Terpercaya

KlipDewasa.com Tempatnya Berbagi Cerita Mesum, Cerita Sex, Cerita Ngentot, Cerita Dewasa, Cerita Tante-Tante, Cerita Sex Abg, Foto Bugil, Tips Bercinta: Cerita Seks Mama Ningsih Jablay – Perkenalkan namaku Renald umurku sudah berkepala 3 saat ini aku bekerja di sebuah perusahaan Swasta, istriku sangat cantik dan bahenol, tapi dalam cerita ini aku tidak akan menceritakan kisah seks dengan istriku melainkan dengan wanita setengah baya

KlipDewasa.com
KlipDewasa.com

Mama Ningsih sebutannya dia tante tante dia sudah menjanda kurang lebih satu tahun, dia hidup sebatang kara tidak mempunyai anak apalagi cucu tapi dari segi postur tubuhnya masih semok dan berisi.Hidupnya sehari-hari ditemani dengan seorang pembantu rumah tangga, yang juga menjadi tanggungan kami.

Anda tahu apa sebabnya ? ialah karena Mama Ningsih tidak pernah hamil dan ternyata selama 9 tahun berumah tangga dengan Paman Istriku, boleh dikatakan hanya 1 tahun dia digauli sebagaimana layaknya seorang istri.

Selebihnya selama 8 tahun selanjutnya, hanya dia bisa nikmati dengan sentuhan tangan suaminya, Itu semua dia alami Karena Sang suami memiliki penyakit Jantung kronis, dan sudah tiada. Setiap dua minggu sekali istriku selalu datang menemui Mama Ningsih untuk menjenguk sekaligus membawanya belanja keperluan dapur ke Supermarket

Aku paling hanya telepon dan paling sebulan sekali menjenguknya. Semua ini kami lakukan hitung-hitung balas budi, karena sewaktu suaminya masih ada dan kondisi kehidupan kami belum mapan kami banyak dibantunya.

Suatu ketika istriku tidak dapat pergi untuk menjenguk Mama Ningsih, padahal sudah jadualnya untuk belanja keperluan dapur Mama Ningsih, istriku kurang enak badan, terpaksa aku menggantikannya, dan hal ini bukan yang pertama kali sudah sering hampir 4-5 kali.

Namun yang kali ini suatu hal yang luar biasa. Aku sudah tidak canggung lagi dengan Mama Ningsih, karena sudah biasa bertemu dan bahkan sudah seperti Ibu ku sendiri. Soal tidur, kami sering tidur bertiga.

Aku, Istriku dan Mama Ningsih, bahkan pernah suatu siang kami, Aku dan Mama Ningsih tidur berdua dikamar, jadi tidak ada hal yang aneh, namun kali ini kejadiannya tidak terencana dan sangat mengagetkan.

Selesai jam kerja di sore hari, aku langsung menuju kerumah Mama Ningsih, untuk menggantikan istriku menemani Mama Ningsih belanja keperluan dapur sebagaimana rutinnya, Setibanya di rumah Mama Ningsih aku langsung memarkirkan mobil ku di depan garasi rumahnya.

Sore Ma! Sapa ku sambil menghampiri Mama Ningsih yang sedang tiduran di sofa sambil menonton TV, kucium tangannya dan kedua pipinya, hal ini adalah kebiasaan di keluarga kami kalau bertemu dalam satu keluarga.

Dengan siapa kamu Ren ? Mama Ningsih bertanya sambil melirik kearah pintu utama dan melihat ku dengan kening dikerut.

Ya dengan Mobil Ma ..! Jawab ku santai dan berbalik ke arah Lemari Es untuk mengambil segelas air dingin. Jangan bercanda .,

Mama Tanya beneran Renald tidak bercanda Ma.,

Renald jawab benaran sekarang aku duduk di bangku tamu didepan sofanya, sambil ikutan menonton TV.

Maksud Mama, Eva tidak ikut ? Eva adalah Istri ku. Eva lagi tidak enak badan, jadinya Renald yang kesini Jawab ku sambil mengalihkan pandangan dari pesawat Televisi kearah Mama Ningsih, namun pandanganku terhenti di kedua panggkal pahanya yang sedang dilipat dan saling bertindihan.Kusadari Mama Ningsih tidak sadar kalau dasternya tersingkap atau dia tahu tapi karena hal ini sudah biasa maka tidak ada masalah bagi kami.

Kali ini aku merasakannya agak aneh, kog aku merasa terangsang dengan pandangan ini. Aku sadar sehingga kualihkan secepatnya pandanganku lagi kearah pesawat televisi, tapi perasaan ku menggoda.

Sehingga aku mencoba mecuri pandang dengan melirik kearah paha tadi, hati semakin tidak tenang, pikiranku mulai tidak normal. Kucoba membuang fikiran yang sudah mulai tidak menentu arah. Ma.. !sapaan ku berhenti, aku ingin menggajak nya bicara tapi pada saat aku menyapa sacara bersamaan aku memalingkan pandangan ku lagi kearah wajah Mama Ningsih.

Tapi pandangan ku berhenti di bagian dada Mama Ningsih yang terlihat gundukannya dikarenakan belahan dastrernya pada bagian dada melorot kesamping, karena pada saat itu posisi tidur Mama Ningsih disofa miring.

Ada apa Ren Tanya nya mengagetkan ku, aku segera memalingkan pandanganku kewajahnya. Ayo Ma, rapi-rapi, sudah hampir jam 7 nich, nanti Supermaket tutup Ren, badan Mama rasanya lemes, kurang bersemangat, bagaimana kalau besok aja kita belanjanya Yah Mama .., Renald udah sampai disini, lagi pula besok Renald ada kerja lembur, dan iya kalau Eva sudah enakkan dan bisa kesini.

Ya udah kapan kapan aja sambutnya lagi, Enggak ah Ma sekarang aja, nanti kalau ditunda-tunda jadi enggak jadi kayak dulu Kamu memang orangnya keras kepala Ren, kalau ada maunya tidak bisa ditunda Ya sudah Mama salin dulu, tapi kalau nanti Mama jadi sakit kamu yang repot juga.

Akhirnya dengan malas dia bangun dari sofanya menuju kamar, akupun melanjutkan menonton Televisi. Selang beberapa menit aku menunggu dengan tidak sabar, akupun melirik kearah pintu kamar, dan tiba tiba mata ku terperanjat melihat pandangan didalam kamar.

Kulihat Mama Ningsih membelakangi pintu kamar dengan hanya menggunakan celana dalam tanpa BH, sayangnya posisinya juga membelakangi ku sehingga aku hanya bisa menikmati lekukan tubuhnya dari belakang, dan cukup indah masih seperti anak remaja.

Semuanya serba ketat dan gempal. Aku semakin kacau. Kuperhatikan terus dari ujung kaki sampai ujung kepalanya, rambut yang terurai semakin menggairahkan ku. Kulihat Mama Ningsih sedang memakai Baju Kemeja putih berenda, wah rupanya dia tidak memakai BH.

Setelah itu dia pakai celana Jean ketat panjangnya tiga-per-empat, dan langsung berbalik kearah pintu kamar, aku dengan cepat juga memalingkan muka kearah Televisi seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi tadi di kamar.

Ayo Ren . Kita jalan , sapa Mama Ningsih yang sudah keluar dari kamarnya, dan akupun meraih remote TV untuk mematikan TV, sambil bangun dari sofa yang aku duduki. Kalau nanti Mama sakit, kamu harus tanggung ya Rend ! Mama Ningsih membuka lagi pembicaraan setelah beberapa menit kami meninggalkan rumahnya dan Mama Ningsih sedang menikmati jalan sambil duduk disebelahku.

Aku sambil memegang setir mobil menjawab dengan santai dan manja. Ya . Iya dong Ma., siapa lagi yang ngurus Mama kalau bukan Renald. Mama sambil rebahan ya Ren ? pintanya sambil merebahkan sandaran jok mobil yang didudukinya.

Boleh kan Ren ? pintanya lagi sambil memegang tangan kiriku, tapi saat ini posisi Mama Ningsih sudah rebah dan terlentang, seolah-olah memerkan dadanya yang menonjol menggairahkan itu. Aku menoleh kesamping kearah Mama Ningsih sambil mengangguk

Tapi lagi-lagi pandanganku terhenti didada Mama Ningsih, yang terlihat samar lekukannya dari balik bajunya yang sengaja tidak dikancing pada bagian atasnya. Kuarahkan lagi pandangan ku kejalan raya agar tidak terjadi apa-apa.

Setibanya di Supermarket mobil aku parkirkan ditempatnya dan kami pun berjalan menuju kedalam supermarket sambil bergandengan, Mama Ningsih mengait tanganku untuk digandolinya, hal ini sudah biasa bagi kami.

Tapi kali ini darah ku berdesar-desar saat bergandengan tangan dengan Mama Ningsih, bagaimana tidak berdesar, yang sedari tadi dalam fikiran ku terlintas terus lekukan buah dada Mama Ningsih kini tersenggol-senggol mengenai siku kiri ku seirama dengan gerakan langkah kami selama menuju kedalam Supermarket.

Setibanya didalam supermarket aku langsung menyambar lorry yang berada disisi pintu masuk supermarket, dan kami pun bergandengan lagi menuju ke barisan etalase keperluan Rumah tangga.

Satu persatu barang keperluan dapur dipilih dan diambil oleh Mama Ningsih, akupun asik dengan kegiatan ku sendiri memperhatikan lekukan badan Mama Ningsih yang masih mengencang yang bergerak terus kadang merunduk dan berdiri lagi sambil ia memeriksa barang yang terdapat dietalase.

Khayalan ku terhenti karena sapaannya. Rend coba kamu lihat labelnya ini, apakah jangka waktunya masih berlaku tidak pintanya sambil jongkok dan dan tanpa melihatku kebelakang dengan tangan memegang sebuah makanan kaleng memberikan kepada ku.

Kemudian aku bergerak mendekati Mama Ningsih dan berdiri tepat disampingnya yang sedang jongkok, kuambil makanan kaleng yang ada ditangannya dan kuperhatikan dengan seksama label masa berlaku yang dimaksud.

Masih lama nih Ma Jawab ku sambil mengembalikan makanan kaleng tadi kepada Mama Ningsih, yang saat ini posisinya sedang membungkuk memperhatikan barang-barang yang lain. Aku terperanjat melihat dua buah gunung yang menempel di dada Mama Ningsih.

Terlihat jelas karena posisinya yang membungkuk sehingga bajunya menggantung kebawah.Buah dada yang indah, masih mengencang, dan memiliki putting yang masih kencang dan tidak terlalu besar, maklum karena Mama Ningsih belum pernah menyusui bayi.

Bentuknya masih bagus, tanpa keriput sedikitpun di sekitar putingnya, putih mulus dan terawat dengan baik. Ada sekitar sepuluh detik aku memperhatikannya, terhenti karena Mama Ningsih berdiri dan bergeser posisi.

Kini akupun tetap berada disampingnya, dengan maksud untuk mendapatkan kesempatan memandang seperti tadi, dan benar Mama Ningsih sebentar-bentar menunduk, dan kesempatan itu tidak aku lewati dengan langsung mengincar pandangan buah dada yang indah itu.

Sudah lebih kurang setengah jam kami mengitari etalase demi etalase, tiba-tiba dari posisi jongkok Mama Ningsih meraih tangan kiriku yang sedang berada disebelahnya. Sambil menggandul ditanganku Mama Ningsih berdiri dan merapatkan badannya disisi badan ku langsung meletakkan wajahnya di bahu kiri ku sambil bergumam Mama pusing Ren.

Mama udah enggak kuat lagi Kemudian tangan kiri ku mengait pinggul Mama Ningsih setengah memeluk dan berkata, Ya.. sudah Ma, kita pulang aja, kalau masih ada yang kurang belanjaannya bisa dibeli di warung dekat rumah aja.

Tanpa menunggu jawaban Mama Ningsih, sambil tetap merangkulnya tangan kanan ku meraih kereta dorong belanjaan dan berjalan menuju Kasir. Selesai membayar semua belanjaan aku pun meminta petugas kasir untuk membantu membawakan barang ke Mobil.

Sementara aku berjalan didepan sambil merangkul Mama Ningsih. Yang kurasakan sekarang buah dada Mama Ningsih menempel di rusuk kiri ku, dan nafasnya yang wangi sangat terasa disisi pipi ku.

Setibanya di Mobil aku pun membukakan pintu dan membimbing Mama Ningsih masuk ke Mobil, perlahan aku dudukan dan kurebahkan ke kursi yang berada disebelah supir, dan sambil kedua tangan ku menahan badan Mama Ningsih rebah, tersenggol lah kedua sisi buah dadanya oleh tangan ku.

Aduh alangkah kerasnya tuh buah dada. Diperjalanan pulang kutanyakan apakah perlu diperiksa ke dokter, tapi Mama Ningsih mengatakan tidak perlu, karena dia hanya merasa pusing biasa, mungkin masuk angin.

Aku pun menyetujui dan langsung mengarahkan mobil ke rumah Mama Ningsih. Kusempatkan memegang kening Mama Ningsih dengan tujuan memeriksa apakah badannya panas atau tidak. Kupalingkan pandangan ku sekali sekali kearah Mama Ningsih yang tiduran disamping.

Masih pusing Ma..Tanyaku. Sedikit..jawabnya singkat. Ntar juga sembuh Ma.. Pembicaraan kami terhenti dan diam beberapa saat.Mobil aku parkir didepan rumah, dan dengan bergegas aku turun terus menghampiri sisi pintu kiri mobil untuk membukakan pintu bagi Mama Ningsih, pintu pun ku buka, kulihat Mama Ningsih terasa berat mengangkat badannya dari Jok Mobil.

Bantu Mama dong Ren., dasar tidak bertanggung jawab hardiknya manja. Akupun langsung merangkul pinggulnya turun dari Mobil dan langsung memapah kedalam rumah. Setibanya didepan pintu masuk Mbok Atik pembantu Mama Ningsih membukakan pintu dan aku sambil membopong Mama Ningsih memerintahkan Mbok Atik untuk menurunkan barang serta menguncil kembali mobilnya.

Mama mau tiduran di Sofa atau dikamar? Dikamar aja Rend Kami pun menuju kamar, dan aku langsung membaringkan Mama Ningsih terlentang di tempat tidur. Mama Ningsih pun berbaring sambil memegang kepalanya.

Renald balur minyak kayu putih dulu ya.. perut Mama, setelah itu Renald pijit kepala Mama Pintaku. Mama Ningsih diam saja, dan aku mengartikan dia setuju, akupun langsung beranjak mengambil minyak kayu putih yang tersedia di tempat obat.

Kuangkat sedikit baju kemeja bagian bawah Mama Ningsih sampai batas rusuk bawahnya, dan akupun membalurkan minyak kayu putih tadi, dengan lembut aku lakukan. Ma Kancing celana Mama di lepas ya biar lega bernafas Aku tahu dia pasti tidak menjawab dan aku pun langsung melepas kancing celana nya.

Selesai aku membalur bagian perutnya dan tanpa meminta ijin aku membalur bagian dada atasnya, saat itu Mama Ningsih kuperhatikan sedang memejamkan matanya sambil kedua tangannya memegangi kepala.

Dan aku duduk diatas tempat tidur disisi kanan Mama Ningsih. Sesuai janji ku, selesai membalur akupun mulai memijit kepala Mama Ningsih, perlahan kutarik kedua tangannya kebawah, dan tanpa kusadari tangan kanannya jatuh diatas pangkal paha ku hampir mengenai punya ku.

Perlahan aku pijit dengan lembut kepalanya, dia pun menikmatinya, tiba-tiba aku teringat pemandangan yang indah sewaktu di supermarket tadi, dua gundukan daging yang menggairahkan, seketika itu juga pandangan ku berpindah ke dada Mama Ningsih, tapi sial yang terlihat hanya bagian atasnya, bajunya hanya terkuak sedikit pada saat aku membalurkan minyak kayu putih pada bagian dada tadi. Ren .

Jangan pulang dulu, temani Mama sampai enakan Aku terkejut dengan suara tadi dan akupun memalingkan muka ku kearah wajah Mama Ningsih, sambil mengangguk. Pijitan ku terus pada kepala Mama Ningsih, dan Dia pun kembali memjamkan matanya.

Terasa capek karena posisi ku memijit agak membungkuk, akupun pindah duduk di lantai karpet. Sekarang posisi memijit ku sambil duduk dilantai dengan kepala aku tidurkan ditempat tidur, pas berada disamping karena buah dada Mama Ningsih.Karena mungkin terlalu capek.

Akupun tertidur pulas, ada mungkin 15 menit, dan aku terbangun karena tekanan buah dada sebelah Kanan Mama Ningsih pada ubun-ubun kepala ku. Kuangkat kepala ku, kudapatkan Mama Ningsih sedang tidur miring kekanan menghadap ku, dan tanpa kusadari sekarang pipi ku menempel langsung pada bagian atas buah dada kanan Mama Ningsih.

Aku tidak berani bergerak, kudiamkan saja pipi ku menempel, tapi barang ku mulai bergerak mengeras. Ada lebih kurang satu menit aku terdiam pada posisi ini, dan tiba-tiba Mama Ningsih memindahkan tangan kirinya yang sedari tadi di atas paha nya ke bahu ku tepat dibawah leher, seolah-olah memeluk ku.

Gerakan Mama Ningsih tadi menyebakan bajunya yang terkuak nyangkut di dagu ku dan tertarik kebawah, sehingga makin terbuka lebar buah dada yang terbuka, dan kepala ku juga ikut terdorong kebawah dengan posisi tidur Mama Ningsih masih miring dan yang menyenangkan bagi ku ialah putting susu kanan yang kecil mungil tadi berada satu centimeter diujung bibir ku.

Aku heran dan gemeter, apakah ini sengaja dilakukan oleh Mama Ningsih, dan apakah dia benar-benar tidur sehingga tidak mengetahui keadaan ini. Sementara fikiran ku bertanya-tanya tanpa kusadari lidah ku sudah mulai menjilati pinggiran putting yang kecil mungil dan halus itu, terus aku jilati sepuas ku dan perlahan aku geser kepala ku sedikit agar lebih dekat dan dapat mengisap serta mengulumnya.

Kini aku isap putting yang menggairahkan itu. Mama Ningsih masih memejamkan matanya, entah tidur atau tidak tapi aku sudah tidak perduli lagi dan perlahan aku buka satu lagi kancing baju atasnya, agar aku bisa lebih leluasa menjilati buah dada yang indah ini.

Tiba-tiba ada gerakan pada kaki Mama Ningsih, dan dengan segera aku lepas kuluman bibir ku di putting Mama Ningsih dan aku ber pura-pura tidur, wah bener Mama Ningsih menggerakkan badannya dan berpindah posisi miring membelakangi ku.

Untuk beberapa saat aku terdiam sambil memperhatikan punggung Mama Ningsih, namun fikiran ku terus merayap mencari akal agar aku dapat menikmati buah dada yang montok tadi, maklum nafsu ku sudah mulai tidak bisa dibendung.

Untuk pulang kerumah menyalurkannya perlu waktu lagi, sementara disini sudah mulai dapat kesempatan, apalagi aku tahu Mama Ningsih sudah bertahun-tahun tidak pernah di sentuh barang sakti, pasti vaginanya sudah mulai rapat dan ketat lagi.

Akhirnya aku putuskan untuk memberanikan diri naik ketempat tidur dan berbaring disebelah Mama Ningsih dengan posisi miring menghadap punggung Mama Ningsih. Untuk beberapa saat aku merfikir memulainya dari mana, aku bingung.

Tapi akhirnya aku putuskan untuk memeluk Mama Ningsih dari belakang dengan melingkarkan tangan kanan ku ketengah dadanya. Perlahan ku tempelkan telapak tangan ku bagian atas buah dada kiri Mama Ningsih, wah. benjolannya masih keras, pelan ku gerakkan tangan ku turun ke bagian tengah buah dadanya.

Sekarang posisi tangan ku sedang mempermainkan putting buah dada Mama Ningsih sambil sebentar sebentar meremasnya. Kurasakan badan Mama Ningsih bergerak dan akupun berhenti dalam permainan ku sejenak dalam posisi masih memeluk Mama Ningsih dan tangan ku masih berada diatas gundukan buah dada Mama Ningsih.

Bersamaan akan aku mulai lagi permainan ku tadi, karena aku anggap Mama Ningsih sudah pulas lagi, ku dengar suara serak dan parau dari sebelah ku. Ren dari tadi Mama tahu kalau Renald mimik, dan sekarang pegangi susu Mama suara ini datangnya dari Mama Ningsih.

Aku sangat terkejut dan kaku sekujur tubuh ku, takut dan bersalah. Ma .. belum selesai aku berbicara tibatiba tangan ku yang berada diatas buah dada Mama Ningsih dipegangnya dan ia berkata Tidak apa-apa Ren., kalau kamu masih belum puas teruskan aja.

Asal kamu bisa memberi kesenangan pada Mama Tanpa menunggu aba-aba lagi dari Mama Ningsih, aku segera menarik badan Mama Ningsih sehingga pada posisi telentang, dan karena kancing bajunya sudah terbuka setengah maka terkuak lah buah dada yang aku remas -remas tadi.

Renald akan memberikan kepuasan yang telah lama hilang dari Mama malam ini selesai berkata demikian, aku langsung menerkam dan melumat bibir mungil yang dihadapan ku.

Permainan bibir berjalan sangat panjang, kami saling bertukar menghisap bibir atas dan bawah, saling mempermainkan lidah, bagaikan dua orang yang sudah lama tidak berciuman.Permainan bibir dan ciuman kuhentikan dan aku berkata lembut sambil memandangi mata Mama Ningsih yang sudah mulai layu.

Mama sudah puas ciuman Ma .. dia tersenyum dan mengangguk. Sekarang Mama nikmati ya., Mama diam dan nikmatilah, Renald akan memberikan kesenangan yang Mama minta Perlahan aku pelorotkan badan ku yang ada diatas Mama Ningsih turun kebawah.

Sehingga muka ku persis diatas dada Mama Ningsih. Ku ciumi lembut leher kirinya dan perlahan berputar ke leher sebelah kanan, setelah puas dengan ciuman di leher, ciuman aku pindahkan kebagian atas dada Mama Ningsih.

Pertama aku ciumi dan aku jilati gundukan kedua dadanya, dan bergeser kebagian tengah, kini aku kitari keliling gundukan buah dada yang kanan dan sekarang yang kiri.

Perlahan ku rambatkan juluran lidah ku keatas puting susu kiri Mama Ningsih dan kuisap sedikit-sedikit sambil menggigit halus. Kuraskan kedua tangan Mama Ningsih mulai mendekap badan ku, dan kurasakan juga Mama Ningsih mulai menggerak-gerakkan pinggulnya yang kutahu dia sedang mencari ganjalan agar menekan tepat dibibir vaginanya.

Aku pindahkan lagi kuluman dan permainan bibir ku ke putting susu Mama Ningsih yang sebelah kanan, Mama Ningsih makin bergerak agak cepat, dia mulai terangsang penuh.

Enak Ma.., ???Mama Senang .??..sambung ku lagi.
Ren . Mama senang, Mama Puas.., Kamu pinter, kamu lembut .anak manis,
Mama sudah lama sekali tidak merasakan ini,
Mama .mau kalau setiap ketemu Kamu cium dan mimik Mama Ren , lagi nak ., jangan terlalu lama ngobrolnya, teruskan aja apa yang kamu mau lakukan,
Mama pasti senang. Cium lagi Ren .., Mimik lagi anak manja .. Aku pun meneruskan permainan lidah ku di kedua susu yang mentul dan keras itu.

Perlahan ciuman dan jilatan ku turun ebawah sambil aku melorotkan lagi badan ku, kini kaki ku sudah menyentuh lantai.

Ku ciumi perlahan perut Mama Ningsih terus kebawah sambil membuka resliting celana Mama Ningsih.Sekarang posisi ciuman ku sudah berada dibagian bawah pusar Mama Ningsih, kira-kira satu centi lagi diatas klitoris Mama Ningsih.

Badannya mulai bergerak tidak menentu, pinggulnya naik turun seakan ingin segera ujung lidah ku menyentuh belahan yang sudah mulai membasah ini, sesekali kudengar suara desis dari bibir mungil Mama Ningsih dan nafas yang sudah mulai tidak menentu.

ahhkk. Hek .ehhhh, yaahhhh Ren Perlahan kutarik dan lepaskan celana jean dan sekaligus celana dalam Mama Ningsih, badan dan kakinya ikut dilenturkan agar mudah aku melepaskan celana yang menutupi vaginanya.

Sekarang celananya sudah terlepas tidak ada lagi yang menutupi kulit mulus Mama Ningsih dari pusar kebawah, sementara kancing baju yang dipakainya sudah kubuka semua dan telah terbuka lebar.

Aku terdiam sejenak dan memandangi tubuh mulus Mama Ningsih yang sedang telentang pasrah sambil memejamkan matanya. Kupandangi dari kedua buah dadanya sampai ketengah selangkangannya yang menjepit vagina yang ditumbuhi bulu halus dan pirang.

Berulang kali aku pandangi, akhirnya aku terkejut oleh suara Mama Ningsih. Anak manja .., apa sudah selesai kamu puaskan Mama, ..atau Mama cukup kamu pandangi saja seperti itu?? Tentu tidak Mama sayang.

Mama akan mendapatkan kepuasan yang belum pernah Mama dapatkan sebelumnya,. ..tapi Renald tidak akan menyia-nyiakan pemandangan yang langka ini, jadi Renald puas-puaskan dulu memandangi Mama. Ayo lah Ren., mama sudah tidak sabar lagi merasakan kepuasan yang kamu janjikan.., kamu bisa memandang Mama kapan saja dan dimana saja nanti.

Mama pasti kasih asal kamu selesaikan dulu sekarang Tanpa menjawab apa-apa lagi aku pun berlutut diujung kakinya du tengah kedua kakinya. Perlahan aku elus dengan kedua tangan ku kedua kaki Mama Ningsih mulai dari bawah betisnya sampai kepangkal pahanya ber-ulang kali naik turun sambil kedua ujung jari ku menyentuh sekali-sekali bibir kiri dan kanan Vaginannya.

Rangsangan mulai dirasakan Mama Ningsih, kaki dan pinggulnya mulai bergerak dan kejang-kejang. Melihat hal itu aku langsung membungkuk dan menjilati sekeliling bibir Vagina Mama Ningsih.

Tercium aroma khas vagina yang terawat dan basah.., dan aku yakin kalau vaginan ini sudah bertahun-tahun tidak disentuh benda keras, kelihatan rapat dan tidak berkerut seperti genjer ayam, satu keuntung besar aku dapatkan.

Permainan lidah ku berlangsung semakit lincah dan sembari menggigit dan menghisap bagian klitoris yang benar sensitive itu.

Ren. Enak sekali Rennnn ., kamu benar , Mama belum pernah merasakan jilatan seperti ini sungguh sayang ., ahhhkkk Ren ..ahhhh ehhhhhhhlk kkk.. sambil bergumam Mama Ningsih menarik rambut ku dengan kedua tangannya agar aku merapatkan dan menekan bibir ku kuat ke Vaginannya.

Jangan berhenti Ren .. , Mama puas., Mama ahhkk. Mam.., Mama menikmatinya Ren . Uhhh.. Kamu apain Ren, Tobat anakku.., ampun Mama ..ahkkkkk ahhhhhhh enak Ren,Aku tidak perdulikan ocehannya.

Terus aku jilati vaginanya yang semakin basah, kutahan pinggulnya dengan kedua belah tangan ku agar tidak menggangu permainan ku dengan rontakan nya. Tiba tiba aku rasakan kepala ku diangkat keatas dan kulihat Mama Ningsih sudah duduk dihadapan ku.

Dengan cepat kedua tangan Mama Ningsih meraih ikat pinggang dan kancing celana ku, dan membuka resliting celnaa ku. Kurasakan darah ku mengalir cepat dan bulu roma ku berdiri pada saat tangan kanan Mama Ningsih menelusup masuk kedalam celanaku dan mengelus batang kemaluan ku. Ku diamkan saja apa Maunya.

Mama Ningsih terus mengelus sembari meremas remasa kelamin ku. Dengan tidak sabar di pelorotinya celana ku, dan karena posisi kuberdiri dengan lutut diatas tempat tidur dihadapan Mama Ningsih, sehingga gerakan tanganya melorotkan celanaku dan celana dalam ku berhenti di lutut ku.

Tapi itu semua sudah cukup untuk membuat kemaluan ku tidak tertutup lagi Ren .. besar sekali kamu punya di berkata sambil mengelus-ngelus batang dan kantong biji kemaluan ku.

Ren apa tidak sakit Ren ., Mama kan sudah lama tidak dimasuki Tidak Ma.., Nanti Renald akan pelan pelan dan Mama akan merasakan nya nikmat.. Dan ahhhhhk.., tersentak nafasku, Mama Ningsih sudah mengulunm ujung batang kemaluan ku, dihisapnya dan sambil memaju dan memundurkan kepalanya aku rasakan setengah batang kemaluan ku sudah masuk kerongga mulut Mama Ningsih.

Aku biarkan dia menikmatinya sambil membuka baju ku, setelah itu, aku membuka baju Mama Ningsih yang sudah terlepas kancingnya tadi.

Sambil Mama Ningsih menikmati Batang kemaluanku, kedua tanganku juga meremas-remas buah dadanya dan sekali mengelus punggungnya dan yang lainnya. Pokoknya hampir seluruh badannya aku elus.

Ciuman Mama Ningsih di batang kemaluan ku berhenti dan kedua tangan ku diraihnya, dan ditariknya sambil Mama Ningsih merebahkan kembali Badan nya, maka badan ku pun tertarik merebah menimpa diatas badannya.

Mama sudah tidak sabar lagi kepengen meraskan batang milik anak Mama yang besar itu Ren .. Iya Sayang . Sambut ku sambil menyambar bibir mungil Mama Ningsih. Sembari mencium, pinggulku ku gerak-gerakan untuk mengarahkan Batang sakti ku masuk ke mulut Vagina Mama Ningsih yang sudah sempit lagi itu.

Kurasakan Batang ku sudah menempel di Vaginanya, dan aku rasakan Mama Ningsih mengangkat pinggulnya untuk menekan rapat kebatang kemaluanku.Kuangkat pantat ku dan pelan kuarahkan ujung batang kemaluan ku tepat di tengah lubang yang basah ini.

Kutekan pelan-pelan dan ahkkkk tersentak badan Mama Ningsih. Sakit Ma ??, Tanya ku dan Mama Ningsih tidak menjawab dia hanya mendesih.

Ehhhhhhh. Aku terus menekan sedikit demi sedikit, masuk sudah setengah kepala batang kemaluan ku..Kutekan terus dan sekarang seluruh kepala kemaluan ku sudah masuk di lobang nikmat ini Kutekan terus per lahan dan pelan dan masuk lah setengah Batang ku tapi Mama Ningsih berteriak.

Aduhhhhhh ahhkkkAku hentikan gerakan menekan ku dan aku bertanya : Sakit Ma,??Dia mengangguk tapi kedua tangannya memegang pinggul ku seakan tidak membolehkan aku mencabut batang ku dari vaginanya.

Aku berfikir, baru setengah sudah sakit dan terasa terjepit. Memang Batang ku cukup besar diatas normal sementara Mama Ningsih tipikal tubuh badan pribumi yang mungil dan memiliki barang yang sempit, aku jadi penasaran dan ingin merasakan nikmatnya kalau seluruh batang ku masuk.

Perlahan kugerakan lagi pantatku menekan kedalam, lembut sekali dan sangat perlahan. Ehh ahhh, Ren. Ahhhhh. Iya ehhhh ahh . Ren .., itu lah suara yang keluar dari mulut Mama Ningsih seiring gerakan ku naik turun yang menyebabkan barang ku keluar masuk.

Sedikit -sedikit gerakan menekan kedalam aku tambah sehingga batang ku yang masuk semakin dalam. Aku rasakan diujung batang ku seperti di hisap-hisap, alangkah nikmatnya, aku hampir tidak tahan.

Aku perkirakan semua batang ku sudah ambles kedalam karena terasa hangat dan nikmat. Dengan lembut aku rapatkan selangkangan ku sambil kedua tangan ku menguak dan mengangkat kedua kaki Mama Ningsih.

Ku tekan rapat-rapat dan ku gerakkan memutar pinggul ku dengan pahaku menempel rapat dan semua batang ku telah masuk. Ren .. nikmat sekali ren, sudah lama sekali Mama tidak merasakan seperti ini, kamu pandai bermain seks Nak Mama bisa ketagihan Ren.

Aku terus memutar pinggul ku dan menciumi lehernya sambil merapatkan badan ku. Mama bisa minta kapan saja Mama tinggal telepon dan Renald pasti melayani Mama Ma .. punya Mama masih enak, rapat dan menghisap.

Renald menikmatinya Ma.. Ahhhkk Ren ., goyang ehhhhh, goyangnya lebih cepat sayang .., Mama kayaknya mau dapat ahhkkkk Ren ya. Uhhhh hekkk .. Ren Aku hentikan sejenak goyangan ku dan kuperbaiki posisi ku dengan sedikit menarik dengkul ku agak menekuk agar pada saat dapat nanti aku bisa leluasa mengankat dan menekan pantat ku dengan leluasa.

Jangan berhenti sayang .. tenang Ma. Kita dapatnya bareng, pada saat dapat nanti Renald akan keluar masuk kan punya Renald biar Mama lebih nikmat lagi. Kalau dapat Mama bilang Ya.. aku sudah mulai menggoyang pinggul ku dengan merapatkan panggkal paha ku.

Sekarang nikmati, pejam kan mata Mama . Ku goyangkan terus berputar pinggul ku makin lama makin cepat. Ren . Ahhhh, terus Ren., Terus Sayang,.. auuu ahh., ya. Ren.Ya Uh ahhhh, eeeenak sekali anak ku.., kamu.

Ahhhhh, goyang tekan Semakin mengejang seluruh badan Mama Ningsih dan goyangan ku semakin cepat berputar. Ren ahhhh, Ren . Reennnn , Mam .. ahhhh, ahhhh .., Ren . Dah., Mama mau .., Mama keluar anakku.

Mendengar perkataan itu aku pun mempercepat goyang ku.Ren. Enak Ren, terus Rennn aku tekan dan aku goyang terus, sambil aku menahan agar aku tidak keluar. Sengaja aku lakukan agar Mama Ningsih puas dulu baru aku keluar.

Dapat yang panjang . Ma,.. Ah,.. yang lama Ma . Puaskan Ma Mama puas Ren,. Terus Ren,. Ahhhhh, ahh huhhhh. Kamu dapat juga sayang . Aku hentikan goyangan ku dan dengan segera aku ganti dengan gerakan naik turun.

Auhh Ren ,, ya. Ren yang kayak gini makin nikmat Sayang.. Puas. Puas. Aduhh enak sekali. Ahhhhhh, yam,yahhhhhhh terus Ren . Gerakan naik turun ku semakin cepat dan batang ku terasa semakin keras nafas ku semakin tidak teratur.

Ma ahhhh, Ma.., ya.. Mama Sayangg , enak sekali Ma., Punya Mama kering , auuu Aduhhhh Ahhhhh, Mam. Renald mau dapat Ma. Dapat lah Sayang . Dapatlah., semburkan semua Mama sudah puas sekali.

Ayo..Ayo Manja Aku percepat gerakan ku sehingga bunyi yang terdengar semakin berdecak, agak kutegakkan badan ku mengambil posisi siap untuk menembakkan cairan dari Batang ku. Renald dapat Ma.

Keluar ahhhhhh Ma,. Re. Mama juga rasakan sayang., hou. Keras sekali sayang terus Nak, puaskan manja. Semburan mani ku banyak sekali dan berulang ulang, tidak tahu berapa kali, dan gerakkan ku makin pelan dan akhirnya tubuh ku lunglai menimpa tubuh kecil Mama Ningsih.

Aku masih terkulai diatas Mama Ningsih sementara batangku belum kucabut dan masih kurasakan denyutan-denyut liang vagina Mama Ningsih.

Perlahan aku jatuh kesamping kanan Mama Ningsih yang sedang terbaring lunglai juga, aku masih memejamkan mata ku sambil menikmati permainan yang baru saja selesai. Mama Ningsih memiringkan badannya menghadapku dan tangan kirinya melingkari dada ku, dan menciumi pipi ku. Mama puas sekali Ren.

Terima kasih Na,dia terus menciumi pipi ku dan aku melirik sambil tersenyum. Kulihat dia sedang menyibak selangkangannya dengan tissue yang ada di meja samping tempat tidur, dan setelah selesai Mama Ningsih bangkit duduk mengelap batang ku.

Agen Judi Taruhan Bola Online Terbesar Dan Terpercaya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY