Aku Puas Dengan Mantan Guru Lesku Bercinta

0
1,002 views
Cerita Sex Aku Puas Dengan Mantan Guru Lesku Bercinta
Cerita Sex Dewasa Aku Puas Dengan Mantan Guru Lesku Bercinta
Poker Online Terpercaya

Kumpulan Cerita & Foto Sex, Dewasa, Bugil, Bokep, Tips Bercinta Terlengkap : Cerita Sex Aku Puas Dengan Mantan Guru Lesku Bercinta – Pengalaman mesum dengan guru lesku yaitu Kak Budi, dimana sekarang ku akan Menceritakan pengalamanku dengannya, awalnya mulanya begini: dulu waktu SMU aku les ditempat Kak Budi, dulu waktu Aku masih les di Tempat Kak Budi kami sering melakukan halnya suami istri dengannya , tetapi saat sudah lulus SMU dan aku sudah tidak lagi les lagi di tempatnya kami jarang sekali bertemu.

Namaku leny aku adalah Ibu Rumah Tangga, usiaku saat ini 36 tahun, tapi diceritaku ini kejadian berlalu 5 tahun di mana awal cerita sex ku kemarin kira-kira aku berusia 31 tahun, saat itu aku yang masih dibilang ibu ibu muda beratku masih 58 kg dengan tinggi 170 cm, secara keseluruhan tubuhku kencang apalagi jika memakai pakain senam lekuk tubuhku seperti gitar spanyol.

Cerita Sex Aku Puas Dengan Mantan Guru Lesku Bercinta

Aku Puas Dengan Mantan Guru Lesku Bercinta

 

Cerita Dewasa Suatu hari ada sahabat suamiku seorang dosen yang ingin mengajar di universitas kuliah di tempat suamiku dan sahabat suamiku juga ingin sekalian mencari tempat tinggal,dan tanpa keberatan aku suamiku menyuruh sahabatnya untuk tinggal di rumah kami, namanya Budi dengan tinggi 173 cm badanya yang atletis dia ternyata atlit karate di tempatnya, ternyata aku baru ingat bahwa dia pernah jadi Guru lesku waktu aku masih SMA.

Kak Budi Manta Guru lesku sangat sopan dan tahu diri. Dia banyak membantu pekerjaan rumah dan sering menemani atau mengantar kedua anakku jika ingin bepergian. Dalam waktu sebulan saja dia sudah menyatu dengan keluargaku, bahkan suamiku sering mengajaknya main tenis bersama.

Aku juga menjadi terbiasa dengan kehadirannya, awalnya aku sangat menjaga penampilanku bila di depannya. Aku tidak malu lagi mengenakan baju kaos ketat yang bagian dadanya agak rendah, lagi pula Kak Budi memperlihatkan sikap yang wajar jika aku mengenakan pakaian yang agak menonjolkan keindahan garis tubuhku.

Sekitar 3 bulan setelah kedatangannya, suamiku mendapat tugas sekolah S-2 keluar negeri selama 2, 5 tahun. Aku sangat berat melepasnya, karena aku bingung bagaimana menyalurkan kebutuhan sex-ku yang masih menggebu-gebu.

Walau usiaku sudah tidak muda lagi, tapi aku rutin melakukannya dengan suamiku, paling tidak seminggu 5 kali. Mungkin itu karena olahraga yang selalu aku jalankan, sehingga hasrat tubuhku masih seperti anak muda. Dan kini dengan kepergiannya otomatis aku harus menahan diri.

Awalnya biasa saja, tapi setelah 2 bulan kesepian yang amat sangat menyerangku. Itu membuat aku menjadi uring-uringan dan menjadi malas-malasan. Seperti minggu pagi itu, walau jam telah menunjukkan angka 9.

Karena kemarin kedua anakku minta diantar bermalam di rumah nenek mereka, sehingga hari ini aku ingin tidur sepuas-puasnya. Setelah makan, aku lalu tidur-tiduran di sofa di depan TV. Tak lama terdengar suara pintu dIbuka dari kamar Kak Budi.

Kudengar suara langkahnya mendekatiku.

Leny..? Suaranya berbisik, aku diam saja. Kupejamkan mataku makin erat. Setelah beberapa saat lengang, tiba-tiba aku tercekat ketika merasakan sesuatu di pahaku. Kuintip melalui sudut mataku, ternyata Kak Budi sudah berdiri di samping ranjangku, dan matanya sedang tertuju menatap tubuhku, tangannya memegang bagian bawah gaunku, aku lupa kalau aku sedang mengenakan baju tidur yang tipis, apa lagi tidur telentang pula. Hatiku menjadi berdebar-debar tak karuan, aku terus berpura-pura tertidur.

“Len..?” Suara kak Budi terdengar keras, kukira dia ingin memastikan apakah tidurku benar-benar nyeyak atau tidak.

Aku memutuskan untuk pura-pura tidur. Kurasakan gaun tidurku tersingkap semua sampai keleher.

Lalu kurasakan kak Budi mengelus bibirku, jantungku seperti melompat, aku mencoba tetap tenang agar pemuda itu tidak curiga. Kurasakan lagi tangan itu mengelus-elus ketiakku, karena tanganku masuk ke dalam bantal otomatis ketiakku terlihat. Kuintip lagi, wajah pemuda itu dekat sekali dengan wajahku, tapi aku yakin ia belum tahu kalau aku pura-pura tertidur kuatur napas selembut mungkin.

Lalu kurasakan tangannya menelusuri leherku, bulu kudukku meremang geli, aku mencoba bertahan, aku ingin tahu apa yang ingin dilakukannya terhadap tubuhku. Tak lama kemuadian aku merasakan tangannya meraba buah dadaku yang masih tertutup BH berwarna hitam, mula-mula ia cuma mengelus-elus, aku tetap diam sambil menikmati elusannya, lalu aku merasakan buah dadaku mulai diremas-remas, aku merasakan seperti ada sesuatu yang sedang bergejolak di dalam tubuhku, aku sudah lama merindukan sentuhan laki-laki dan kekasaran seorang pria. Aku memutuskan tetap diam sampai saatnya tiba.

Sekarang tangan Kak Budi sedang berusaha membuka kancing BH-ku dari depan, tak lama kemudian kurasakan tangan dingin Kak Budi yang meremas dan memilin puting susuku. Aku ingin merintih nikmat tapi nanti amalah membuatnya takut, jadi kurasakan remasannya dalam diam. Kurasakan tangannya gemetar saat memencet puting susuku, kulirik pelan, kulihat Kak Budi mendekatkan wajahnya ke arah buah dadaku. Lalu ia menjilat-jilat puting susuku, tubuhku ingin menggeliat merasakan kenikmatan isapannya, aku terus bertahan. Kulirik puting susuku yang berwarna merah tua sudah mengkilat oleh air liurnya, mulutnya terus menyedot puting susuku disertai gigitan-gigitan kecil. Perasaanku campur aduk tidak karuan, nikmat sekali.

Tangan kanan Kak mulai menelusuri selangkanganku, lalu kurasakan jarinya meraba vaginaku yang masih tertutup CD, aku tak tahu apakah vaginaku sudah basah apa belum. Yang jelas jari-jari Kak Budi menekan-nekan lubang vaginaku dari luar CD, lalu kurasakan tangannya menyusup masuk ke dalam CD-ku. Jantungku berdetak keras sekali, kurasakan kenikmatan menjalari tubuhku. Jari-jari Fuad mencoba memasuki lubang vaginaku, lalu kurasakan jarinya amblas masuk ke dalam, wah nikmat sekali. Aku harus mengakhiri KakBudi, aku sudah tak tahan lagi, kubuka mataku sambil menyentakkan tubuhku.

“Kak Budi!! Ngapain kamu?

Aku berusaha bangun duduk, tapi tangan Kak Budi menekan pundakku dengan keras. Tiba-tiba Kak Budi mecium mulutku secepat kilat, aku berusaha memberontak dengan mengerahkan seluruh tenagaku. Tapi Kak Budi makin keras menekan pundakku, malah sekarang Kak Budi menindih tubuhku, aku kesulitan bernapas ditindih tubuhnya yang besar dan kekar berotot. Kurasakan mulutnya kembali melumat mulutku, lidahnya masuk ke dalam mulutku, tapi aku pura-pura menolak.

“Len.., maafkan saya. Sudah lama Kita Tidak pernah merasakan ini lagi, maafkan saya Len.. ” Kak Budi melepaskan ciumannya lalu memandangku dengan pandangan meminta.

“Kak Budi kan masih bisa melakukan dengan Cewek Cewek lain masih muda. ,” Ujarku lembut.

“Tapi saya sudah tergila-gila berhubungan sex dengan kamu Len. Saat kamu sma kan kita uda pernah melakukannya .. Saya akan memuaskan kamu lagi Len sepuas-puasnya,” jawab Kak Budi.

“Ah Kak Budi.. Ya sudah terserah kak Budi sajalah”

Aku pura-pura menghela napas panjang, padahal tubuhku sudah tidak tahan ingin dijamah olehnya. Lalu Kak Budi melumat bibirku dan pelan-pelan aku meladeni permainan lidahnya. Kedua tangannya meremas-remas pantatku. Untuk membuatnya semakin membara, aku minta izin ke WC yang ada di dalam kamar tidurku. Di dalam kamar mandi, kubuka semua pakaian yang ada di tubuhku.

Keluar dari kamar mandi, Kak Budi persis masuk kamar. Matanya terbeliak melihat tubuh sintalku yang tidak berpenutup sehelai benangpun.

“Body kamu Masih Oke Lenn.. ” dia memuji sembari mengecup puting susuku yang sudah mengeras sedari tadi. Tubuhku disandarkannya di tembok depan kamar mandi. Lalu diciuminya sekujur tubuhku, mulai dari pipi, kedua telinga, leher, hingga ke dadaku. Sepasang payudara montokku habis diremas-remas dan diciumi. Putingku setengah digigit-gigit, digelitik-gelitik dengan ujung lidah, juga dikenyot-kenyot dengan sangat bernafsu.

“kamu hebat Lenn..,” desisnya.

“Apanya yang hebat..?” Tanyaku sambil mangacak-acak rambut Kak Budi .

“Badan kamu enggak banyak berubah dibandingkan waktu kamu Sma dulu” Katanya sambil terus melumat puting susuku. Nikmat sekali.

“Itu karena aku teratur olahraga” jawabku sembari meremas tonjolan kemaluannya. Dengan bergegas kuloloskan celana hingga celana dalamnya. Mengerti kemauanku, dia lalu duduk di pinggir ranjang dengan kedua kaki mengangkang.

DIbukanya sendiri baju kaosnya, sementara aku berlutut meraih batang penisnya, sehingga kini kami sama-sama bugil.

Agak lama aku mencumbu kemaluannya, Kak Budi minta gantian, dia ingin mengerjai vaginaku.

“Masukin aja yuk, aku sudah ingin ngerasain penis kamu lagi kak Bud!” Cegahku sambil menciumnya.

Kak Budi tersenyum lebar. “Sudah enggak sabar ya?” godanya.

“Kak Budi juga sudah enggak kuatkan sebenarnya Kan,” Balasku sambil mencubit perutnya.

Kak Budi tersenyum lalu menarik tubuhku. Kami berpelukan, berciuman rapat sekali, berguling-guling di atas ranjang. Ternyata Kak Budi masih lihai bercumbu Seperti waktu dulu. Birahiku naik semakin tinggi dalam waktu yang sangat singkat. Terasa vaginaku semakin berdenyut-denyut, lendirku kian membanjir, tidak sabar menanti terobosan batang kemaluan Kak Budi yang besar.

Berbeda dengan suamiku, Kak Budi nampaknya lebih sabar. Dia tidak segera memasukkan batang penisnya, melainkan terus menciumi sekujur tubuhku.

Terakhir dia membalikkan tubuhku hingga menelungkup, lalu diciuminya kedua pahaku bagian belakang, naik ke bongkahan pantatku, terus naik lagi hingga ke tengkuk. Birahiku menggelegak-gelegak.

Kak Budi menyelipkan tangan kirinya ke bawah tubuhku, tubuh kami berimpitan dengan posisi aku membelakangi Kak Budi, lalu diremas-remasnya buah dadaku. Lidahnya terus menjilat-jilat tengkuk, telinga, dan sesekali pipiku. Sementara itu tangan kanannya mengusap-usap vaginaku dari belakang. Terasa jari tengahnya menyusup lembut ke dalam liang vaginaku yang basah merekah.

“Vagina kamu masih bagus ya Len, tebel, masih seperti kayak dulu lagi..,” dia berbisik persis di telingaku. Suaranya sudah sangat parau, pertanda birahinya pun sama tingginya dengan aku. Aku tidak bisa bereaksi apapun lagi. Kubiarkan saja apapun yang dilakukan Kak Budi, hingga terasa tangan kanannya bergerak mengangkat sebelah pahaku.

Mataku terpejam rapat, seakan tak dapat lagi membuka. Terasa nafas Kak Budi semakin memburu, sementara ujung lidahnya menggelitiki lubang telingaku. Tangan kirinya menggenggam dan meremas gemas buah dadaku, sementara yang kanan mengangkat sebelah pahaku semakin tinggi. Lalu.., terasa sebuah benda tumpul menyeruak masuk ke liang vaginaku dari arah belakang. Oh, my God, dia telah memasukkan rudalnya..!!

Sejenak aku tidak dapat bereaksi sama sekali, melainkan hanya menggigit bibir kuat-kuat. Kunikmati inci demi inci batang kemaluan Kak Budi memasuki liang vaginaku. Terasa penuh, nikmat luar biasa.

“Oohh..,” sesaat kemudian aku mulai bereaksi tak karuan. Tubuhku langsung menggerinjal-gerinjal, sementara Kak Budi mulai memaju mundurkan tongkat wasiatnya. Mulutku mulai merintih-rintih tak terkendali.

“Kak Bud, penismu enaak banget,masih seperti kayak dulu ..!!,” kataku setengah menjerit.

kak Budi tidak menjawab, melainkan terus memaju mundurkan rudalnya. Gerakannya cepat dan kuat, bahkan cenderung kasar. Tentu saja aku semakin menjerit-jerit dibuatnya. Batang penisnya yang besar itu seperti hendak membongkar liang vaginaku sampai ke dasar.

“Oohh.., toloongg.., gustii..!!”

Kak Budi malah semakin bersemangat mendengar jerit dan rintihanku. Aku semakin erotis.

“Aahh, penismu.., oohh, aarrghh.., penismuu.., oohh..!!”

Kak Budi terus menggecak-gecak. Tenaganya kuat sekali, apalagi dengan batang penis yang luar biasa keras dan kaku. Walaupun kami bersetubuh dengan posisi menyamping, nampaknya Kak Budi sama sekali tidak kesulitan menyodokkan batang kemaluannya pada vaginaku. Orgasmeku cepat sekali terasa akan meledak.

“aku mau keluar! aku mau keluaar!!” aku menjerit-jerit.

“Yah, yah, yah, aku juga, aku juga! Enak banget ‘bercinta’ sama kamu Len!” kak Budi menyodok-nyodok semakin kencang.

“Sodok terus, Kak!! Yah, oohh, yahh, ugghh!!”

“Teruuss.., arrgghh.., sshh.., ohh.., sodok terus penismuu..!”

“Oh, ah, uugghh.. ”

“Enaak.., penis kamu enak, penis kamu sedap, yahh, teruuss..”

Pada detik-detik terakhir, tangan kananku meraih pantat kak Budi, kuremas bongkahan pantatnya, sementara paha kananku mengangkat lurus tinggi-tinggi. Terasa vaginaku berdenyut-denyut kencang sekali. Aku orgasme!

Sesaat aku seperti melayang, tidak ingat apa-apa kecuali nikmat yang tidak terkatakan. Mungkin sudah ada lima tahun aku tak merasakan kenikmatan seperti ini. Kak Budi mengecup-ngecup pipi serta daun telingaku. Sejenak dia membiarkan aku mengatur nafas, sebelum kemudian dia memintaku menungging. Aku baru sadar bahwa ternyata dia belum mencapai orgasme.

Kuturuti permintaan Kak Budi. Dengan agak lunglai akibat orgasme yang luar biasa, kuatur posisi tubuhku hingga menungging. Kak Budi mengikuti gerakanku, batang kemaluannya yang besar dan panjang itu tetap menancap dalam vaginaku.

Lalu perlahan terasa dia mulai mengayun pinggulnya. Ternyata dia luar biasa sabar. Dia memaju mundurkan gerak pinggulnya satu-dua secara teratur, seakan-akan kami baru saja memulai permainan, padahal tentu perjalanan birahinya sudah cukup tinggi tadi.

Aku menikmati gerakan maju-mundur penis Kak Budi dengan diam. Kepalaku tertunduk, kuatur kembali nafasku. Tidak berapa lama, vaginaku mulai terasa enak kembali. Kuangkat kepalaku, menoleh ke belakang. Kak Budi segera menunduk, dikecupnya pipiku.

“Kak Bud.. Kamu masih seperti dulu hebat banget.. aku kira tadi kak Bud sudah hampir keluar,” kataku terus terang.

“Emangnya Leny suka kalau aku cepet keluar?” jawabnya lembut di telingaku.

Aku tersenyum, kupalingkan mukaku lebih ke belakang. Kak Budi mengerti, diciumnya bibirku. Lalu dia menggenjot lebih cepat. Dia seperti mengetahui bahwa aku mulai keenakan lagi. Maka kugoyang-goyang pinggulku perlahan, ke kiri dan ke kanan.

Kak Bud melenguh. Diremasnya kedua bongkah pantatku, lalu gerakannya jadi lebih kuat dan cepat. Batang kemaluannya yang luar biasa keras menghunjam-hunjam vaginaku. Aku mulai mengerang-erang lagi.

“Oorrgghh.., aahh.., ennaak.., penismu enak bangeett.. kakk Budd!!”

Kak Bud tidak bersuara, melainkan menggecak-gecak semakin kuat. Tubuhku sampai terguncang-guncang. Aku menjerit-jerit. Cepat sekali, birahiku merambat naik semakin tinggi. Kurasakan Kak Budi pun kali ini segera akan mencapai klimaks. Maka kuimbangi gerakannya dengan menggoyangkan pinggulku cepat-cepat. Kuputar-putar pantatku, sesekali kumajumundurkan berlawanan dengan gerakan Fuad. Pemuda itu mulai mengerang-erang
pertanda dia pun segera akan orgasme.

Tiba-tiba Kak Budi menyuruhku berbalik. Dicabutnya penisnya dari kemaluanku. Aku berbalik cepat. Lalu kukangkangkan kedua kakiku dengan setengah mengangkatnya. Kak Budi langsung menyodokkan kedua dengkulnya hingga merapat pada pahaku. Kedua kakiku menekuk mengangkang. Kak Budi memegang kedua kakiku di bawah lutut, lalu batang penisnya yang keras menghunjam mulut vaginaku yang menganga.

“Aarrgghh..!!” aku menjerit.

“Aku hampir keluar!” Kak Bud bergumam. Gerakannya langsung cepat dan kuat. Aku tidak bisa bergoyang dalam posisi seperti itu, maka aku pasrah saja, menikmati gecakan-gecakan keras batang kemaluan Fuad. Kedua tanganku mencengkeram sprei kuat-kuat.

“Terus, Sayang.., teruuss..!”desahku.

“Ooohh, enak sekali.., aku keenakan.., enak ‘bercinta’ sama kamu Lenn!” Erang Kak Budi

“aku juga, aku juga, vagina aku keenakaan..!” Balasku.

“Aku sudah hampir keluar, Len.., vagina kamu enak bangeet lenn.. ”

“aku juga mau keluar lagi, tahan dulu! Teruss.., yaah, aku juga mau keluarr!”

“Ah, oh, uughh, aku enggak tahan, aku enggak tahan, aku mau keluaar..!”

“Yaahh teruuss, sodok teruss!! aku enak enak, aku enak, kak Bud.., aku mau keluar, aku mau keluar,

vaginaku keenakan, aku keenakan ‘bercinta’ sama kamu kak Bud.., yaahh.., teruss.., aarrgghh.., sshh.., uughh.., aarrghh!!”

Tubuhku mengejang sesaat sementara otot vaginaku terasa berdenyut-denyut kencang. Aku menjerit panjang, tak kuasa menahan nikmatnya orgasme. Pada saat bersamaan, Kak Bud menekan kuat-kuat, menghunjamkan batang kemaluannya dalam-dalam di liang vaginaku.

“Oohh..!!” dia pun menjerit, sementara terasa kemaluannya menyembur-nyemburkan cairan mani di dalam vaginaku. Nikmatnya tak terkatakan, indah sekali mencapai orgasme dalam waktu persis bersamaan seperti itu.

Lalu tubuh kami sama-sama melunglai, tetapi kemaluan kami masih terus bertautan. kak Budi memelukku mesra sekali. Sejenak kami sama-sama sIbuk mengatur nafas.

“Enak banget,” bisik kak Bud beberapa saat kemudian..

“Hmm..” Aku menggeliat manja. Terasa batang kemaluan Kak Budi bergerak-gerak di dalam vaginaku.

“Vagina kamu enak banget Len, bisa nyedot-nyedot kayak dulu..”

“Apalagi penis kak Bud.., gede, keras, dalemm..”

Kak Budi bergerak menciumi aku lagi. Kali ini diangkatnya tangan kananku, lalu kepalanya menyusup mencium ketiakku. Aku mengikik kegelian. Kak Budi menjilati keringat yang membasahi ketiakku. Geli, tapi enak. Apalagi kemudian lidahnya terus menjulur-julur menjilati buah dadaku.

Kak Budi lalu menetek seperti bayi. Aku mengikik lagi. Putingku dihisap, dijilat, digigit-gigit kecil. Kujambaki rambut Kak Budi karena kelakuannya itu membuat birahiku mulai menyentak-nyentak lagi. Kak Budi mengangkat wajahnya sedikit, tersenyum tipis, lalu berkata,

“Aku bisa enggak puas-puas ‘bercinta’ sama Len.. Leny juga suka kan?”

Aku tersenyum saja, dan itu sudah cukup bagi Kak Budi sebagai jawaban. Alhasil, seharian itu kami bersetubuh lagi. Setelah break sejenak di sore hari malamnya Kak Budi kembali meminta jatah dariku. Sedikitnya malam itu ada 3 ronde tambahan yang kami mainkan dengan entah berapa kali aku mencapai orgasme. Yang jelas, keesokan paginya tubuhku benar-benar lunglai, lemas tak bertenaga.

Cerita Dewasa, Cerita Sex, Cerita Mesum, Cerita Ngentot, Foto Bugil, Streaming Bokep, Video Bokep, Video Mesum, Tips Bercinta

Agen Judi Taruhan Bola Online Terbesar Dan Terpercaya

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY